Jumat, 19 Februari 2010

PENYAKIT PARU RETRIKTIF

PENYAKIT PARU RESTRIKTIF


A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Pendahuluan
Pada penyakit paru restriktif terjadi keterbatasan ekspensi total paru-paru. Volume statis paru berkurang atau menghilang sebagai akibat penurunan komplians paru atau toraks. Klien dengan gangguan restriktif menunjukkan alkalosis respiratorik (yang disebabkan oleh peningkatan kompensasi dalam frekuensi atau kecepatan pernapasan untuk mengimbangi hilangnya volume paru). Jika peningkatan frekuensi pernapasan tidak dapat lagi mengopensasi volume paru yang hilang, maka akan terjadi hipoksemia (oksigen darah arteri rendah). Secara klinis individual dengan gangguan restriktif menunjukkan dispnea tingkat tertentu. Mereka sering menjadi dispnea saat melakukan aktivitas disik. Dengan progesi penyakit, individu akan mengalami dispnea saat istirahat. Selain itu individu dengan penyakit paru restriktif sering mempunyai bentuk kering. Tabel 5-1 menyajikan gangguan utama yang mengabaikan gangguan ventilatori restriktif primer.
2. Klasifikasi
Atelektasis
a. Definisi
o Atelektasi adalah penyakit restriktif akut yang umum terjadi, mencakup kolaps jaringan paru atau unit fungsional paru. Atelektasis merupakan masalah umum klien pascaoperasi. (KMB, Monica Ester S.Kep)
o Ateletaksis adalah ekspansi yang tidak sempurna paru saat lahir (ateletaksis neokatorum) atau kolaps sebelum alveoli berkembang sempurna, yang biasanya terdapat pada dewasa yaitu ateletaksis didapat (acovired aeletacsis) (buku ajar patologi II, Robins dan kumar)

b. Macam-macam Atelektasis
Atelektasis Neonatorum
Bentuk ini terbagi menjadi primer dan sekunder. Atelektasis primer neonatorum berarti bahwa respirasi belum pernah terjadi sepenuhnya. Banyak terjadi pada bayi prematur, di mana pusat pernapasan dalam otak tidak matur dan gerakan pernapasan masih terbatas. Faktor pencetus termasuk komplikasi persalinan yang menyebabkan hipoksia intrauter.
Pada autopsy, paru tampak kolaps, berwarna merah kebiruan, non crepitant, lembek dan alastis. Yang khas paru ini tidak mampu mengembang di dalam air. Secara histologis, alveoli mempunyai paru bayi, dengan ruang alveoli kecil yang seragam, dilapisi dindingin septa yang tebal yang tampak kisut. Epitel kubis yang prominem melaposi rongga alveoli dan sering terdapat edapan protein granular bercampur dengan debris amnion dan rongga udara.
Atelektasi neonatorum pada sistem, gawat napas, telah di bahas disebelumnya.

Atelektasis Acquired atau Didapat
Atelektasis pada dewasa, termasuk gangguan intratoraks yang menyebabkan kolaps dari ruang udara, yang sebelumnya telah berkembang. Jadi terbagi atas atelektasis absorpsi, kompresi, kontraksi dan bercak (gambir 13.7). istilah ini banya menyangkut mechanisme dasar yang menyebabkan paru kolaps atau pada distribusi dari perubahan tersebut.
Altelektasis absorpsi terjadi jika saluran pernapasan sama sekali tersumbat sehingga udara tidak dapat memasuki bagian distal parenkim. Udara yang telah tersedia secara lambat laun memasuki aliran darah, disertai dengan kolapsnya alveoli. Tergantung dari tingkat obstruksi saluran udara, seluruh paru, merupakan lobus yang lengkap, atau bercak segmen dapat terlibat. Penyebab tersering dari kolaps absorbsi adalah abstruksi bronchus oleh suatu sumbatan mucus. Hal ini sering terjadi pasca operasi. Asma bronchial, bronkiektasis dan bronchitis akut serta kronis, dapat pula menyebabkan obstruksi akut serta kronis. Dapat pula menyebabkan obstruksi akut serta kronis, dapat pula menyebabkan obstruksi karena sumbatan bahan mukopurulen. Kadang-kadang obstruksi disebabkan oleh aspirasi benda asing atau bekuan darah, terutama pada anak atau selama operasi rongga mulut atau anestesi. Saluran udara dapat juga ter sumbat oleh tumor, terutama karsinoma bronkogenik dengan pembesaran kelenjar getah bening (seperti pada tuberculosis, contohnya) dan oleh aneurisma pembuluh darah.
Atelektasis kompresi paling sering dihubungkan dengan penimbunan cairan darah atau udara dalam kavum pleura, yang secara mekanis menyebabkan kolaps paru di sebelahnya. Ini adalah kejadian yang sering pada efusi pleura dari penyebab apa pun, namun mungkin yang paling sering dihubungkan dengan hidrotoraks pada payah jantung kongesti. Pneumotoraks dapat juga menyebabkan atelektasis kompresi pada penderita dengan tirah baring dan penderita denan asites, atelaktasis basal menyebabkan posisi diafragma yang lebih tinggi.
Atelektasis kontraksi terjadi bila perubahan fibrosis pada paru dan pleura yang menghambat ekspensi dan meningkatkan daya pegas pada ekspirasi.
Atelektasis bercak bearti adanya daeah kecil-kecil dari kolaps paru, sepeti terjadi pada obstruksi bronkioli yang multiple karena sekresi atau eksudat pada kedua sindrom gawat napas orang dewasa dan bayi.
Pada sebagian kecil kasus, atelektasis terjadi karena patogenesis tertentu yang menyertai jelas pada dinding dada.
Atelektasis didapat (acquired) dapat akut atau kronis. Biasanya timbul karena sumbatan mucus yang relatif akut, yang menjadi manifest karena mendadak timbul sesak napas. Memang peristiwa sesak napas akut dalam 48 jam setelah satu prosedur pembedahan, hampir selalu didiagnosis sebagai atelektasis. Yang penting adalah atelektasis dapat didiagnosis dini dan terjadi reekspensi yang tepat dari paru yang terkena, karena perenkim yang kolaps amit peka terhadap infeksi yang menunggagi. Atelektasis persisten segmen paru mungkin merupakan bagian penting untuk terjadinya karsinoma bronkogenik yang diam-diam.
c. Tanda dan Gajala
Mungkin tidak didapatkan kelainan apa-apa selain dari penyakit yang mendasarinya, walaupun pada pasien dengan atelektasis yang luas mengelur nyeri dada, batuk dan dispnea. Pada pemeriksaan fisik mugkin tidak didapatkan kelainan dan bila ada, biasanya tidak spesifik berupa: krepetasi, suara napas, melemah atau ketika diperkusi dan sisi yang sakit didapatkan pekak.
d. Patofisiologi
Atelektasis adalah istilah yang berarti "Ekspensi Taksempurna" dan kondisi ini menunjukkan bahwa pada bagian paru yang terganggu mengalami kehilangan udara dan kolapa. Penting untuk diingat bahwa atelektasis berbeda dengan pneumotoraks. Meski pada kedua kondisiini terjadi karena alveoli mengalami kurang inflasi atau takterinflasi, sementara peneumotoraks terjadi karena udara memasuki ruang pleural.
e. Pencegahan atelektasis
1. Dorong klien untuk napas dalam dan bentuk efektif untuk mencegah penumpulan sekresi dan untuk mengeluarkan eksidat.
2. Ubah posisiklien dengan sering dan teratur, terutama dari posisi telentang ke posisi tegak, untuk meningkatkan ventilasi dan mencegak akumulasi sekresi.
3. Tingkatkan ekspensi dada yang repat selama bernapas untuk penyebaran udara dalam paru-paru secara menyeluruh.
4. Berikan medikasi atau sedatif secara biajaksana untuk mencegah depresi pernapasan.
5. Lakukan pengisapan untuk mengeluarkan sekresi trakheobron khiolar.
6. Lakukan drainase postural dan perkusi dada.
7. Dorong aktivitas atau ambulasi dini.
8. Ajarkan teknik sporometri insensif yang tepat.
f. Penatalaksanaan Klien
Pengobatan atelektasis didasarkan pada etiologi penyakit. Namun demikian pencegahan adalah faktor terpenting. Kerangka kerja terapi yang mendasar adalah mobilisasi dini dan perubahan posisi sering pada klien tirah baring atau klien pascaoprasi. Napas dalam dengan teratur penting karena pada klien ini umunya terjadi penurunan kesadaran akibat pengaruh anestesi, penurunan mobilitas, dan nyeri (Hanneman, 1995). Bronchodilator dan mukolitik, jika diindikasikan, dan fisioterapi dada akan sangat membantu, ventilasi yang adekuat dapat ditingkatkan denan perubahan posisi, batuk efektif, napas dalam, atau spirometri insentif.
Tanggung jawab keperawatan dalam hal ini adalah memberikan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya teknik pernapasan termasuk latihan napas dalam dan teknik batuk efektif, dan aktifitas fisik lainnya sesuai dengan toleransi klien. Tindakan ini terutama penting untuk klien pascaoperatif dan tirah baring.

Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS)
a) Definisi
 Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS) adalah istilah yang diterapkan untuk sindrom gagal napas hipoksemia akut tanpa hiperkapnea. Sindrom ini pertama kali diperkenalkan oleh T J Petty pada tahun 1967.
ARDS adalah suatu kondisi yang ditandai oleh hipoksemia barat, dispnea dan infiltrasi pulmonary bilateral. ARDS menyebabkan penyakit restriktif yang sangat parah. ARDS pernah dikenal dengan banyak nama termasuk syok paruh, paru-paru basah traumatic, sindrom kebocoran kapiler, postoerfusi paru, atelektasis kongestif dan insufisiensi pulmonal postraumatik. Sindrom ini tidak pernah timbul sebagai penyakit primer, tetapi sekunder akibat gangguan tubuh yang terjadi. (KBM, Monica Ester, S.Kep)
 ARDS adalah bentuk penyakit paru yang menyeluruh yang menyebabkan beberapa variasi dari kondisi klinik, beberapa di antaranya adalah gangguan penyakit non paru. Jadi bukan penyakit primer. (Buku Ajar Patologi II, Robins dan Kumar)
b) Kondisi klinis yang menyebabkan ARDS
1. Syol sepsis, hemoragi, kardiogenik, dan anafinaktik
2. Trauma, kontusio pulmonal, nonpulmonal dan multisistem
3. Infeksi: pneumonia (virus, bakteri {streptokokus atau stafilokokus}, tuberculosis miliaris).
4. Koagulasi intravascular diseminata (DIC)
5. Emboli lemak.
6. Aspirasi: Kandungan lambung yang sangat asam (pH kurang dari 2,5).
7. Menghirup agens beracun: asap, fosgen, nitrogen oksida.
8. Pankreatitis.
9. Toksistas oksigen
10. Penyalahgunaan obat narkotik: heroin, metadon.
11. Obat-obatan: etklorvinol, salisilat,
c) Potofisiologi
Perubahan patofisiologis yang mengakibatkan ARDS secara khas diawali oleh trauma mayor pada tubuh, seringkali merupakan serangan fisik terhadap sistem tubuh ketimbang sistem pulmonary. Perubahan patofisiologis berikut ini mengakibatkan sindrom klinis yang sebagai ARDS (Phipps, et al, 1995):
1) sebagai konsekuensi dari serangan pencetus, complement cascade menjadi aktif, yang selanjutnya meningkatkan permeabilitas dinding kapiler.
2) Cairan, leukosit granular, sel-sel darah merah (SDM), makrofag, sel debris, dan protein bocor ke dalam ruang interstisial antarkapiler dan alveoli dan pada akhirnya ke dalamruang alveolar.
3) Karena terdapatnya cairan dan debris dalam unterstisium dan alveoli, maka area permukaan untuk pertukaran oksigen dan karbon dioksida menurun, sehingga mengakibatkan rendahnya rasio ventilasi/perfusi (V/Q) dan hipoksemia.
4) Terjadi hiperventilasi kompensasi dari alveoli fungsional, sehingga mengakibatkan hipokapnea dan alkalosis respiratorik.
5) Sel-sel yang normalnya melapisi alveoli menjadi rusak dan diganti oleh sel-sel yang tidak menghasilkan surfakten, dengan demikian meningkatkan tekanan pembukaan alveolar.

PROSES PATOFISIOLOGI DARI SINDROM
GAWAT NAFAS PADA DEWASA










d) Manifestasi Klinis ARDS
Tanda dan gejala ARDS:
1. Distres pernapasan akul: takipnes, dispnea, pernafasan menggunakan otot aksesori, dan sianosis sentral.
2. Batuk kering dan demam yang terjadi lebih dari beberapa jam sampai seharian
3. Krakles harus di seluruh bidang paru.
4. Perubahan sensorium yang berkisar dari kolam pikir dan agitasi sampai koma.

Temuan hasil pemeriksaan radiology dan laboratorium:
1. Film ronsen dada: menunjukkan infiltrasi interstisial dan alveolar difus, bilateral, dan biasanya simetris.
2. AGD: hipoksemia, PaO2 kurang dari 50 mm Hg, hipokapnea, alkalosis respiratirik, tahap lanjut: hiperkapnea dan alkalosis respiratorik dan kematian.
e) Penatalaksanaan Medis ARDS
Klien dengan ARDS berada dalam keadaan sakit kritis dan sangat baik ditangani di unit perawatan intensif (ICU). Penatalaksanaan medis difokuskan pada oksigenasi. Pada awalnya mungkin diperlukan untuk memberikan oksigen dengan konsentrasi tinggi (100% - dengan menggunakan masker wajah nonrebreathing). Namun demikian, pemberian oksigen melebihi 50% berkaitan dengan toksisitas oksigen yang dapat memperburuk patologi ARDS yang sudah terjadi. Konsentrasi oksigen biasanya dapat diturunkan kurang dari 50% berkaitan dengan menggunakan positive-end-expiratory pressure (PEEP) untuk membuka alveoli yang tertutup guna meningkatkan ventilasi. Tujuan pemberian oksigen adalah untuk mempertahankan PaO2 antara 50-60 mm Hg. Secara bertahap FiO2 dikurangi sambil mempertahankan tingkat oksigen arteri yang adekuat.
Penatalaksanaan medis kedua adalah dukungan ventilator. Jika terapi oksigen saja tidak berhasil dalam memberikan oksigenasi arterial yang adekat, maka klien diintubasi dan dipantau dalam ventilator mekanik. Ventilator dengan volume terbatas biasanya lebih banyak digunakan. Ventilator diatur untuk memberikan volume tidal yang sebanding dengan 10 sampai 12 ml/kg berat badan, frekuensi pernafasan sebanding dengan 10 sampai 14 kali/menit, dan FiO2 50%; dan digunakan PEEP. Jika pernapasan spontan individu adekuat, maka digunakan mode intermittent mandatory ventilasi (IMV). Jika pola ventilatori spontan mengganggu dengan pemberian ventilasi yang adekuat, maka klien disedasi atau dilumpuhkan dengan Pavulon, dan kemudian digunakan mode kontrol.
Penatalaksanaan volume cairan juga menjadi focus dari penatalaksanaan medis. Biasanya dipasang kateter arteri pulmonary untuk mengukur tekanan kapiler pulmonary. Diuretic, ekspender volume cairan, dan medikasi hipotensi diberikan sesuai indikasi untuk mempertahankan volume cairan yang optimal. Focus terakhir dari penatalaksanaan medis adalah mengobati penyebab mendasar dari ARDS.











B.KONSEP DASAR KEPERAWATAN
ATELEKTASIS
Pengkajian
1. Observasi/temuan
2. Peningkatan suhu tubuh
3. Bunyi nafas
a. Tidak terdengar/menurun di atas daerah yang terkena
b. Krekels
c. Egogoni dan bronkofoni
4. Tekipneu
5. Takikardia
6. Suilit dalam pernapasan
7. Sesak napas
8. Pernapasan cuping hudung
9. Ansietas
10. Gelisah
11. Gerakan dada simentris pada inspirasi
12. Pemeriuksaan labiratrium/diagnostic
13. Gas-gas daerah arteri
Penurunan PaO2
PaCO2 normal/menurun
Atelektasis signigfikan: Peningkatan PaCO2
14. Pemeriksaan sinar X dada
Kenaikan diafragma pada bagian yang terkena
Pergeseran fraksa medistinus ke arah bagian yang terkenal bila terdapat daerah efelektasis yang muleuas
Penyempitan ruang iga
15. Potensial Komplikasi
Pneumonia
Pneumotoraks
16. Penatalaksanaan medis
Terapi oksigen bila diperlukan
Fisioterapi dada
IPPB/spirometer intensif
Volume tidal tinggi dan/PEEP bagi pasien dengan intubasi
Bronkoskopi
Dukungan nutrisi
Penatalaksanaan cairan
17. Obat-obatan
Anipiretik
Bronkodilator
Antibiotic
Diagnosa / intervensi / evaluasi keperawatan
1. Kurang pengetahua mengenai proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan kesehatan.
a. Kaji tingkat pengertian mengenai proses penyakit
b. Instruksikan pasien dalam teknik batuk dan napas dalam, ajarkan pasien untuk menekan dada ketika batuk.
c. Instruksikan pasien untuk menggunakan spirometer insentif dan beberapa sering untuk dipakai bila akan dilanjutkan di rumah
d. Jelaskan pentingnya untuk tidak merokok
e. Jelaskan pentingnya untuk melakukan latihan sesuai toleransi; pentingnya untuk menghindari keletihan dan merencanakan waktu istirahat
f. Diskusikan obat-obatan: nama, dosis, waktu pemberian, tujuan, dan efek samping.
g. Jelaskan pentingnya untuk menghindari obat-obatan yang dijual bebas sebelum membicaraknnya dengan dokter.
Hasil yang diharapkan/evaluasi
Pasien mendemonstrasikan pengertian tentang penatalaksanaan perawat kesehatan tentang proses penyakit seperti yang dibuktikan oleh :
a. Menggunakan sirometer insentif sesuai pesanan
b. Melakukan ambulasi seperti yang diarahkan oleh tim perawatan.
c. Menggunakan prinsip penatalaksanaan perawatan kesehatan
2. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan kompresi pada jaringan paru.
a. Kaji terhadap tanda hipoksimia: Sulit dalam pemapasan, takipnea, gelisah, pucat.
b. Kaji tingkat kesadaran
c. Asukultasi bunyi napas setiap 2 jam – 4 jam
d. Periksa kualitas dan frekuensi pernapasan
e. Perhatikan kualitas dan frekuensi pernapasan
f. Bantu dan unstruksikan pasien untuk berbalik, batuk, dan napas dalam 1-2 jam.
g. Bantu dan ajarkan pasien untuk melakukan drainase postural setiap 45 menit dan peran mungkin dipesankan untuk melakukan penepukan (clapping)
h. Lakukan penghisapan nasotrakeal sesuai kebutuhan
i. Berikan nebulisasi sesuai pesanan
j. Berikan nebulisasi sesuai pesanan
k. Instruksikan dan berikan dorongan pasien untuk menggunakan spirometer insentif sesuai pesan
l. Berikan dorongan untuk melakukan ambulasi diri segera mungkin
m. Pantau TD, Suhu, dan nadi setiap 4 jam
n. Pantau gas-gas darah arteri sesuai pesanan
o. Antipiretik
Hasil yang diharapkan/evaluasi
a. Pertukaran gas pasien meningkat
b. Hasil analisis gas darah dalam batas yang dapat diterima
c. Bunyi paru jelas selama auskultasi
d. Irama dan frekuensi pernapasan normal

ARDS
1) Pengkajian
Pengkajian keperawatan dari klien denan ARDS harus dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memaksimalkan informasi yang dikumpulkan tanpa meningkatkan distress pernapasan klien.
Data subjektif
Informasi tentang latar belakang dan riwayat penyakit saat ini dapat dikumpulkan dari sumber anggota keluarga klien biasanya terlalu lemah untuk dapat memberikan informasi secara rinci.

Data objektif
Data objektif yang dikumpulkan termasuk:
a. Mengkaji penampilan umum.
b. Mengkaji status mental: dapat beragam dari agitasi sampai somnolens.
c. Mengkaji tanda-tanda vital: takikardia, takipnea, bradipnea, anea, dan hipotensi.
d. Lakukan pemeriksaan paru: Pilih komponen dari pemeriksaan paru yang dapat ditoleransi oleh klien. Temuan dari pemeriksaan akan bergantung pada penyebab gagal napas yang mendasari. Kaji temuan pemeriksaan laboratorium seperti hasil AGD dan spirometri.
2) Diagnosa keperawatan
a) Gangguan pertukaran gas b/d ARDS
b) Penurunan curah jantung b/d arusbalik vena menurun
c) Pada pernapasan tidak efektif b/d perubahan tekanan paru
d) Ansietas b/d ARDS
e) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d inkubasi
3) Intervensi
a) Diagnosa keperawatan
Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan ARDS
Hasil yang Diharapkan Intervensi Keperawatan Rasional
Tetap reroksigenasi dengan adekuat yang ditunjukkan oleh :
1. PaO2 pada hasil AGD lebih dari 75 mm Hg
2. Warna kulit tidak pucat
3. Sirkulasi pirifer adekuat. Pantau AGD untuk menentukan PaO2.
Lakukan penghisapan hanya ketika diperlukan untuk mencegah kehilangan PEEP sekunder akibat terputusnya hubungan dari ventilator ARDS cedera paru akut yang mengakibatkan peningkatan permeabilitas kapiler, yang memungkinkan protein dan cairan mengalir keluar dan masuk kedalam ruang alveoli dan intersti
Sium, sehingga menghambat terjadinya pertukaran gas yang normal
Pantau tingkat PEEP dan fiO2 yang diperlukan. Kaji sirkulasi pertifer terhadap nadi, warna ekstremitas dan suhu. Pantau kadar oksigen darah vena campuran

b) Diagnosa Keperawatan
Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan arus balik vena menurun
Hasil yang Diharapkan Intervensi Keperawatan Rasional
Tidak mengalami gangguan homodinamik yang berkaitan dengan PEEP Pantau tanda-tanda vital setiap jam dan sesuai kebutuhan
Pantau parameter homodinamik terhadap tanda penurunan curah jantung, hipotensi kenaikan CVP, dan oliguria.
Pantau masukan dan keluaran
Periksa sirkulasi perifersetiap 2 sampai 4 jam dan sesuai kebutuhan.
Tinggalkan bagian kaki tempat tidur 10 sampai 20 derajat untuk meningkatkan arus balik vena
Lakukan latihan rentang gerak pasif (ROM) setiap 4 sampai 6 jam untuk meningkatkan arus balik vena
Berikan obat-obat adrenegik sesuai yang dipesankan untuk meningkatkan curah jantung
Beritahukan dokter jika terjadi komplikasi hemodinamik PEEP dapat meyebabkan menurunnya curah jantung dengan meningkatkan tekanan intraalveolar, dengan demikian menurunkan arus balik vena ke jantung.





c) Diagnosa Keperawatan
Hasil yang Diharapkan Intervensi Keperawatan Rasional
Tidak mengalami komplikasi akibat PEEP
1. Atelektasis
2. Prieumotoraks
3. Peumomediastium
4. emfisema subkutan Pantau pernapasan setiap jam dan sesuai yang dibutuhkan.
Kaji bunyi napas terhadap adanya bunyi napas tambahan (lihat Bab 2).
Lakukan tindakan pulmoneri setiap 2 jam dan sesuai yang diperlukan:
1. Sering mengubah posisi klien.
2. Fisioterapi dada
Patau terhadap tanda-tanda komplikasi pulmonary dan distress pemapasan:
1. Ekskursi dada asimetris
2. Nyeri tajam mendadak
3. Sianosis
4. Ansietas
Kaji terhadap emfisema subkutan
Simpan set selang data dekat ditempat tidur klien
Pantau AGD sesuai yang diperlukan
Beritahukan dokter tentang komplikasi pernapasan. Jika dinding alveoli tidak dapat menahan tekanan positif dari PEEP, maka dapat terjadi perforasi. Sebagai akibat, udara menglir ke dalam ruang pleural, mediastium, dan /ruang subkutan. Akibatnya adalah pneumotoraks, pneumomediastinum atau emfisema subkutan yang terjadi secara berurutan.

d) Diagnosa Keperawatan
Ansietas yang berhubungan dengan ARDS, intubasi, dan ketidak nyamanan akibat PEEP.
Hasil yang Diharapkan Intervensi Keperawatan Rasional
Tn. Dan Ny, X menunjukkan tanda-tanda perilaku menurunnya stress dan ansietas. Kaji terhadap tanda-tanda ansietas.
Jelaskan tentang ARDS kepada keluarga klien, termasuk rasional dari ventilasi mekanik dan PEEP
Beri klien dan keluarganya kesempatan untuk mengekpresikan kekhawatian dan ketakutannya.
Jelaskan tentang prosedur sebelum dilakukan.
Berikan alternatif komunikasi untuk Tn. Dan Ny.X
Antisipasi kebutuhan klien dan keluarganya Unit perawatan intensif, ventilasi mekanik, ketidak mampuan untuk berkomunikasi, dan ketakutan akan hal-hal yang tidak diketahui semuanya mengakibatkan perasaan-perasaan stress dan ansistas bagi klien di IVU sebagaimana juga orang terdekat klien
Berikan medikasi sedasi ringan /atiansietas jika diperlukan, sesuai pesanan.
Upayakan selalu tenang dan menyebarkan Tn.X jika ia mulai "melawan' atau menahan ventilator Ekshalasi tekanan positif sering tidak nyaman bagi klien, yang sering memberi rspons dengan melawan vertilator

e) Diagnosa Keperawatan
Perubahan nutrisi kuang dari kebutuhan yang berhubungan dengan intubasi
Hasil yang Diharapkan Intervensi Keperawatan Rasional
Menerima masukan nutrisi yang adekuat selama diintubasi Berikan hiperalimentasi atau makanan melalui selang arterl sesuai yang ditetepkan Status nutrisi dipertahankan untuk membantu dalam proses penyapihan dari ventilator, protein dan volume ekspander akan meningkatkan tekanan osmotic koloid serum sehingga mempertahankan cairan dalam komperteman intravascular
Pantau masukan dan haluaran.
Timbang berat badan setiap hari,
Berikan albumin atau volume ekspander sesuai yang ditetapkan.
Pantau kader albumin serum.


4) Implementasi
1. Mempertahankan pertukaran gas yang adekuat melalui oksigenasi (pertahankan terapi oksigen sesuai pesanan dan pantau tanda-tanda hipoksemia). Dengan dukungan ventilator, pertahankan patensi jalan udara; jika terpasang jalan udara buatan (mis, pipa endotrakheal atau trakheosiomi). Amankan posisi pipa untuk menghindari pergerakan baik keluar atau ke dalam dari posisi pipa untuk menghindari pergerakan baik keluar ke dalam dari posisi yang sudah ditetapkan. Posisikan klien untuk mendapatkan oksigenasi yang optimal biasanya dengan bagian kepala tempat tidur dinaikan 45 sampai 90 derajat. Auskultasi paru-paru setiap jam untuk mengkaji letak endotrakheal. Lakukan pengisapan pipa endotrakheal sesuai yang diperlukan dan diperiksa setting ventilator secara teratur.
2. Mempertahankan perfusi jaringan. Pemeliharaan perfusi jaringan yang adekuat adalah tanggung jawab keperawatan.
a. Pantau tekanan pulmonary capillary wedge. Beritahukan dokter jika tekanan berada di atas atau di bawah rentang yang ditetapkan. Jika tekanan lebih rendah dari rentang yang ditetapkan, berikan plasma volume ekspender atau medical hipotensif sesuai pesanan. Jika tekanan tinggi, berikan diuretic atau vasodilator sesuai yang dipesankan.
b. Kaji haluan urine, tanda-tanda vital, dan ekstremitas setiap jam.
3. Menurunkan ansietas klien dan keluarganya.
a. Pastikan fungsi ventilator yang tepat untuk memberikan volume tidal dan konsentrasi oksigen yang adekuat. Jika klien tampak dalam distress pernapasan meski ventilator bergungsi dengan tepat, kaji kadar gas AGD.
b. Identifikasi cara-cara agar klien dapat mengomunikasikan kekhawatiran dan mengekspresikan perasaannya (jika tidak mampu untuk mengungkapkan secara verbal karena intubasi, coba cara alternatif komunikasi).
c. Berikan penjelasan yang singkat dan dengan sederhana mengenai prosedur; orientasikan klien terhadap lingkungan sekitar, dan ulang penjelasan secara teratur.
d. Berikan penjelasan tentang rutinitas perawatan dan lingkungan kepada keluarga klien. Dorong keluarga klien untuk mendekati, berbicara, dan menyentuh klien, jika mereka menghendaki.
4. Mempertahankan nutrisi yang adekuat
5) Evaluasi
Keberhasilan penatalaksanaan keperawaran klien dengan ARDS tercermin pada pencapaian hasil dan tujuan klien (lihat bagian Hasil Klien yang Diharapkan). Bandingkan perilaku klien (pencapaian ini) dengan hasil dan tujuan klien yang telah ditetapkan sebelumnya. Ketidak berhasilan dalam pencapaian mengindikasikan diperlukannya modifikasi endekatan dengan melakukan pengkajian kembali kondisi klien, merevisi diagnosa keperawatan, dan menyesuaikan tindakan keperawatan yang dipilih.


DAFTAR PUSTAKA


Asih, Niluh Gede Yasmin, 2003. Keperawatan Medikal Bedah. Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta: EGC
Kumar, Robbins, 1995. Buku ajar Patologi 2. Jakarta: EGC
Hinchliff, Sue, 1999. Kamus Keperawatan. Jakarta: Airlangga University Press.
www.google.com (penyakit paru restriktif)
Sweaningen, 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

IMPLIKASI THAHARAH WUDHU PADA KESEHATAN

IMPLIKASI THAHARAH (WUDHU) TERHADAP

KESEHATAN




A.THAHARAH


I.PENGERTIAN THAHARAH
Secara bahasa,thaharah artinya membersihkan kotoran,baik kotoran yang berwujud maupun kotoran yang tidak berwujud.
Secara istilah,thaharah artinya menghilangkan hadats,najis,dan kotoran dengan air atau tanah yang bersih.
Jadi,thaharah adalah menghilangkan kotoran-kotoran yang masih melekat dibadan yang membuat tidak sahnya sholat dan ibadah lainnya.


II.MACAM – MACAM THAHARAH
Thaharah dibagi menjadi 2 :

a.Thaharah Batin
Thaharah Batin adalah thaharah dari kesyirikan dan kemaksiatan,yaitu dengan cara menegakkan katauhitan dan melakukan amal-amal saleh.
Caranya:dengan selalu bersikap ikhlas,menegakkan tauhid dan yakin dalam keimanannya;juga dengan membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran maksiat,sifat dengki,dongkol kepada sesama muslim,dendam,sombong,bangga diri,riya’,sum’ah,dan lain-lain.
Kotoran-kotoran tersebut juga bisa kita bersihkan dengan cara bertauba dengan sungguh-sungguh kepada Allah dari dosa dan maksiat.

b.Thaharah Lahir
Thaharah Lahir adalah thaharah dari kotoran yang berupa hadast dan najis.
Thaharah Lahir dilakukan dengan cara-cara yang telah ditentukan Allah,yaitu berwudlu,mandi atau tayamum bila tidak ada air , dan telah membersihkan najis dari badan,pakaian,dan tempat shalat.


III.BENTUK THAHARAH
Bentuk Taharah ada 2 macam :

a.Thaharah Dengan Air
Ini merupakan bentuk thaharah yang asli.
Air yang turun dari langit atau yang keluar dari perut bumi , selama masih murni termasuk air yang suci.
Kondisinya suci dan bisa untuk membersihkan hadast atau kotoran,messkipun telah berubah rasa,warna,atau baunya,asalkan zat yang merubahnya suci pula.
Karena itu,air hujan,air dari mata air,air sumur,air sungai,air salju,air es yang meleleh,dan air laut adalah suci.
Akan tetapi,bila air tersebut berubah warna,rasa,atau baunya karena terkena najis,maka air tersebut menjadi air najis yang harus dijaauhi.

b.Thaharah Dengan Debu
Debu merupakan pengganti air.
Bila seseorang terhalang menggunakan air karena sebagian anggota tubuhnya luka atau khawatir bila menggunakan air akan menimbulkan bahaya pada dirinya,mka debu yang bersih bisa dia gumakan.


IV.HUKUM – HUKUM AIR

1.Air bekas wudlu yang jatuh dari badan tetap menjadi air sci dan bisa dipakai kembali selama tidak bercampur dengan benda najis yang dapat mengubah karakternya.

2.Keyakinan terhadap kesucian air tidak bisa dihilangkan dengan keraguan bahwa air itu najis.Hukum asal air adalah suci.Jika muncul keraguan apakah air ini najis atau suci,maka kita wajib menghilangkan keraguan bahwa air itu najis dan menetapkan keyakinan bahwa air itu suci.Apabila anda tidak bisa menentukan dengan yakin apakah air itu suci atau tidak maka anda boleh menggunakan untuk berwudlu sesuai dengan kesepakatan para ulama.



B.WUDHU

I.PENGERTIAN

Wudhu adalah menghilangkan hadast kecil untuk mengerjakan shalat dan kewajiban lainnya.


II.HAL – HAL YANG MEWAJIBKAN WUDHU

 Ketika hendak sholat,baik sholat fardlu maupun sholat sunnah
 Ketika hendak tawaf mengelilingi ka’bah
 Memegang mushaf Al Qur’an


III.CARA BERWUDHU

1. Berniat didalam hati dan mengucapkan basmalah
2. Membasuh kedua telapak tangan,berkumur,dan memasukkan air kedalam hidung sebanyak 3x
3. Membasuh wajah secara menyeluruh sebanyak 3x
4. Membasuh kedua tangan sampai siki sebanyak 3x,dimulai dari tangan kanan dan dilanjutkan dengan tangan kiri.
5. Mengusap seluruh rambut,termasuk 2 telinga.jika anda menggunakan kerudung maka anda boleh mengusap diatasnya.
6. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki sebanyak 3x,dimulai darai kaki kanan.
7. Mengucapkan doa setelah wudhu


IV.RUKUN WUDHU

Rukun wudhu merupakan inti dari wudhu itu sendiri.
Jika salah satu dari rukun ini diabaikan,maka wudhu yang anda lakukan menjadi tidak sah.

Rukun wudhu adalah sebagai berikut :
1. Membasuh semua wajah
2. Berkumur-kumur dan membersihkan hidung dengan air
3. Membasuh kedua tangan sampai siku
4. Mengusap semua kepala , termasuk dua telinga
5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki
6. Tertib urutan rukun wudhu
7. Muallah(menyegerakan membasuh anggita wudhu yang lain setelah membasuh anggota yang pertama.


V.SUNNAH WUDHU
1. Membaca basmalah diawal wudhu
2. Menggunakan siwak
3. Membasuh kedua telapak tangan sebanyak 3x diawal wudhu
4. Melakukan madhmadhah dan istinsyaq dengan sekali menciduk air
5. Melakukan madhmadhah dan istinsyaq dengan cepat,kecuali bagi orang yang berpuasa
6. Mendahulukan membasuh anggota wudhu yang kanan
7. Membasuh anggota wudhu sebanyak 3x
8. Menggosok-gosok anggota wudhu
9. Menyela-nyela jari tangan dan kaki
10. Menambah basuhan pada anggota wudhu
11. Menghemat penggunaan air
12. Berdoa setelah wudhu
13. Sholat dua rakaat setelah wudhu


VI.HAL –HAL YANG MEMBATALKAN WUDHU

1. Keluar sesuatu dari kubul atau dubur,seperti kencing,tinja,atau kentut.
2. Keluar air mani (sperma) ,madi dan wadi.
3. Tidur yang lelap.
4. Hilang kesadaran akibat mabuk,pingsan,atau gila.
5. Menyentuh kemaluan tanpa penghalang,baik disertai sahwat maupun tidak.

VII.HAL – HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN WUDHU

1. Menyentuh laki-laki non mahram
2. Mengeluarkan darah,baik akibat luka maupun bekam,baik sedikit maupun banyak.
3. Muntah dan lainnya.
4. Ragu apakah hadast atau tidak
5. Tertawa terbahak-bahak ketika melaksanakan sholat.
6. Memandikan mayat


VIII.PERBUATAN YANG HARUS DILAKUKAN DENGAN WUDHU

Perbuatan – perbuatan yang harus dilakukan dalam keadaan berwudhu berarti haram untuk dilakukan oleh orang yang dalam keadaan berhadast.
Diwajibkan berwudhu jika ingin melaksanakan sholat,baik sholat fardhu,sunnah,maupun sholat jenazah.


IX.PERBUATAN YANG BOLEH DIKERJAKAN TANPA WUDHU

1. Tawaf diKa’bah
2. Memegang mushaf


X.PERBUATAN YANG DISUNNAHKAN UNTUK DILAKUKAN DENGAN WUDHU

1. Ketika berdzikir kepada Allah
2. Ketika hendak tidur
3. Ketika hendak minum,makan,tidur,atau mengulangi jima’ bagi orang yang junub.
4. Wudhu sebelum mandi.
5. Wudhu setelah makan makanan yang dimasak dengan api.
6. Mengulang wudhu untuk setiap waktu sholat.
7. Berwudhu setiap kali batal.
8. Wudhu karena muntah.


XI.HAL – HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN OLEH SESEORANG YANG BERWUDHU

 Dibolehkan berbicara ketika berwudhu karena hal itu termasuk perkara mubah atau tidak ada dalil dalam hadis yang menjelaskan keharamannya.
 Tidak ada doa dan zikir ditengah-tengah wudhu,doa hanya dibaca setelah wudhu.
 Wudhu tidak sah jika terdapat pewarna pada kuku karena pewarna kuku menghalangi meresapnya air dijari-jari.akan tetapi warna asli seperti merah daun inai tidak dilarang.tetapi,menanggalkan semua itu sebelum wudhu dan sholat lebih dianjurkan .
 Setelah berwudhu berwudhu diperbolehkan seseorang memakai handuk untuk mengeringkan anggota tubuhnya.
C.MANFAAT WUDHU BAGI KESEHATAN
Berwudhu sangat efektif mencegah masuknya bibit penyakit.
Bagian-bagian tubuh yang terkena air wudhu adalah bagian tubuh terbuka. Bagian ini lah yang sering kali dihinggapi berbagai kuman penyakit, sehingga kehadiran kuman-kuman ini akan menambah kuman-kuman yang memang sudah terdapat dikulit. Menurut ilmu bacteria(mikro bacteriology), 1cm persegi dari kulit kita yang terbuka bisa dihinggapi lebih dari 5 juta bakteri yang bermacam-macam.
Perkembangan bakteri di kulit tersebut sangat cepat. Salah satu factor yang paling memengaruhi perkembangannya adalah keseimbangan asam basa(pH). Bisa dikatakan pH permukaan kulit inilah yang melindungi tubuh dan membatasi perkembangan kuman yang menimbulkan penyakit. Ketika membasuk kulit dengan air wudhu, maka secara langsung akan memengaruhi kesimbangan pH dan kelembaban sehingga akan membuat sel kulit kembali normal.
Manfaat wudhu bagi kesehatan sudah banyak mendapatkan perhatian ahli-ahli kesehatan. Salah satu pakar kesejatan yang melakukan kajian ilmiah tentang wudhu adalah Dr. Magomedov. Asisten pada lembaga General Hygiene and Ecology (Kesehatan Umum dan Ekology) di Daghestan State Medical Academy. Menurut dokter Magomedov, wudhu dapat menstimulasi/merangsang irama tubuh alam, khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots (BASes) atau titik-titik aktif biologis. Menurut riset ini, mirip dengan titik-titik refleksologi Cina.
Kalau untuk mempelajari titik-titik refleksi Cina bisa diselesaikan dalam waktu 15-20 tahun, dengan wudhu menurut Dr. Magamedov bisa diselesaikan dengan cepat dan sederhana. Dan, keunggulan lainnya refleksi dengan wudhu tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga mencegah masuknya penyakit.
Apa yang diungkapkan Dr. Magamedov bukan isapan jempol belaka. Ketika seseorang melakukan wudhu, 61 sampai 65 titik refleksi merupakan bagian-bagian yang terkena basuhan wudhu. Titik-titik tersebut merupakan saraf-saraf yang berhubungan dengan organ-organ tubuh manusia yang sering kali menimbulkan penyakit akut seperti ginjal, jantung, paru-paru, darah tinggi, dan kangker. Ketika melakukan wudhu titik tersebut akan terrefleksi sehingga selain bisa mengobati bisa juga mencegah terjadinya penyakit-penyakit akut tersebut.
Dalam pengobatan modern guyuran air wudhu sama dengan hidroterapi atau pemijatan dengan memanfaatkan air sebagai media penyembuhan. Ketika seseorang sedang berwudhu dan kemudian membasuh wajah, misalnya, hal ini akan memberik efek positif pada usus, ginjal, dan system saraf maupun reproduksi. Membasuh kaki kiri berefek positif pada kelenjar pituiri dan otak yang mengatur fungsi-fungsi kelenjar endokrin. Di telinga terdapat ratusan titik biologis yang akan menurunkan tekanan darah dan mengurangi sakit.
Dalam buku yang berjudul (“shalat : Olah raga untuk Jasmani dan Rohani”), Mokhtar Salem, mengungkapkan pendapat yang hamper senada dengan Dr. Magamedov. Menurutnya, wudhu bisa menjadi alat paling efektif untuk mencegah terjadinya kangker kulit. Dari hasil penelitian medis kangker kulit disebabkan oleh berbagai bagan kimia – baik zat-zat hasil pembuangan limbah industry maupun kosmetika-yang kemudian menempel pada kulit. Selama ini belum ditemukan cara paling jitu untuk menghindari penyakit itu. Yang sering kali dianjurkan dokter kulit baru sebatas pencegahannya, yaitu dengan membersihkan kulit secara rutin. Dan dengan wudhu anjuran dokter tersebut dapat terlaksana karena setiap hari paling tidak umat Islam melakukan wudhu lima kali dalam sehari.
Berkaitan dengan kangker kulit, selain menguraikan bahwa air yang membasuh wajah ketika berwudhu akan dapat meremajakan sel-sel kulit muka dan membantu mencegah muncuknya keriput. Selain itu, wudhu juga meremajakan selaput lender yang menjadi gugus depan pertahanan tubuh. Proses ini penting karena salah satu tugas utama lender adalah membawa zat-zat asing yang masuk kepada sel pelindung manusia, yaitu limfosit T (sel T) dan limfosit B (sel B). keduanya bersiaga dijaringan limfoid dan system gatah bening serta mampu menghancurkan penyakit yang akan menggerogoti tubuh. Maka jika fungsi terganggu tubuh akan mendapat ancaman yang besar karena kehilangan kekebalan alaminya. Dan dengan melakukan wudhu fung tersebut bisa ditingkatkan daya kerjanya.
Satu lagi bagian tubuh yang mendapatkan perhatian ketika berwudhu adalah lubang hidung. Seperti yang sudah banyak diketahui hidung merupakan organ pernafasan tempat keluar masuknya udara. Tidak selamanya udara yang dibawa masuk kedalam tubuh itu bersih. Udara yang tidak bersih tersebut menyebabkan berbagai penyakit seperti ISPA(Infeksi Saluran Pernapasan Akut), TBC dan kangker. Dengan membersihkan saluran hidung dengan air ketika wudhu maka akan melakukan pencegahan dini terhadap penyakit-penyakit tersebut.
Selain sebagai pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit, wudhu juga bisa memperlancar aliran darah. Ketika air wudhu membasuh anggota wudhu, secara langsung akan membuat darah bereaksi sehinga bekerja bisa lebih cepat dan gesit mengalirkan darah keseluruh tubuh. Hal ini bisa terjadi karena air wudhu mengenai tubuh akan menyebabkan normalisasi suhu tubuh sebagai akibat bertemunya suhu panas dalam tubuh dengan dinginnya guyuran air wudhu. Saat itu juga darah mengalir kedaerah seputar wajah, kedua tangan dan telapak kaki dengan sangat lancer.
Lancarnya aliran darah pada seluruh tubuh(dan juga termasuk pada bagian kulit) akan membuat kelenjar kulit bekerja. Tugas kelenjar kulit ini adalah menyedot darah-darah kotor dan membuangnya keluar tubuh melalui pembuluh-pembuluh halus yabg terletak dipermukaan kulit. Maka begitu darah kotor itu keluar, air wudhu akan langsung membersihkannya. Egek dari proses ini adalah kulit di sekitar wajah dan bagian tubuh yang lain akan selalu tampak segar dan berseri-seri. Inilah mungkin alas an ilmiahnya kenapa disunnahkan membasuh bagian tubuh yang terkana air wudhu sebanyak tiga kali.
Proses membuang darah kotor lewat permukaan kulit tersebut selain membuat kulit selalu segar dan berseri-seri juga akan membantu fungsi ginjal. Ginjal merupakan organ tubuh yang bertugas membuang zat-zat baracun lewat kencing. Ketika tugas ini telah dibantu oleh pembuluh darah yang ada dipermukaan kulit maka tugas ginjal juga akan berkurang. Artinya, berwudhu ternyata mengurangi sedikit beban berat kerja ginjal dan dampaknya bisa meminimalisir kemungkinan terkena resiko sakit ginjal.
Ada satu lagi organ tubuh yang diuntungkan dengan lancarnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh, yaitu jantung. Tugas jantung adalah memompa darah keseluruh bagian tubuh. Semakin jauh dari bagian yang akan dipompa maka kerja jantung akan semakin besar. Daerah-daerah yang jauh itu antara lain wajah, telapak tangan dan kaki. Nah, ketika berwudhu maka jantung akan langsung bereaksi dan kemudian memompa darah dengan kuat menuju tiga anggota badan yang berjauhan itu, sehingga beban kerja jantung semakin berkurang. Ketika jantung bisa bekerja denga rileks dan normal maka hal ini akan mencegah terjadinya serangan jantung.
Ketika berwudhu disunnahkan untuk berkumur-kumur dan bersiwak. Secara medis hal ini ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut. Sebuah penelitian mencatat bahwa 90% dari mereka yang menderita kerusakan gigi, adalah karena keteledoran dalam melakukan kebersihan mulut. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri yang ada dimulut tidak hanya mengancam gigi dan gusi, tetapi juga mengancam system pencernaan kita, ini karena ait liur yang kita telan berasal dari mulut. Dengan berkumur-kumur dan bersiwak maka kebersihan dalam rongga mulut dan gigi akan terjamin.
DAFTAR PUSTAKA


Bin wahf Al Qahtbani.Sa’id bin Ali.2004.Thaharah Nabi.Jogjakarta;Media Hidayah
Kamal.Abu Malik.2007.Fiqih Sunnah Wanita.Jakarta Pusat:Pena Pundi Aksara
www.google.com(www.manfaat wudhu bagi kesehatan.com)

GAGAL JANTUNG KRONIK

GAGAL JANTUNG

A. KONSEP DASAR PENYAKIT
DEFINISI
Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan,dan / atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian volume diastolic secara abnormal.

ETIOLOGI
1. Disfungsi miokard (kegagalan miokardial)
Ketidakmampuan miokard untuk berkontraksi dengan sempurna mengakibatkan isi sekuncup ( stroke volume) dan curah jantung (cardiac output) menurun.
2. Beban tekanan berlebihan-pembebanan sistolik (systolic overload)
Beban sistolik yangb berlebihan diluar kemampuan ventrikel (systolic overload) menyebabkan hambatan pada pengosongan ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel atau isi sekuncup.
3. Beban volume berlebihan-pembebanan diastolic (diastolic overload)
Preload yang berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel (diastolic overload) akan menyebabkan volum dan tekanan pada akhir diastolic dalam ventrikel meninggi. Prinsip Frank Starling ; curah jantung mula-mula akan meningkat sesuai dengan besarnya regangan otot jantung, tetapi bila beban terus bertambah sampai melampaui batas tertentu, maka curah jantung justru akan menurun kembali.
4. Peningkatan kebutuhan metabolic peningkatan kebutuhan yang berlebihan (demand overload)
Beban kebutuhan metabolic meningkat melebihi kemampuan daya kerja jantung di mana jantung sudah bekerja maksimal, maka akan terjadi keadaan gagal jantung walaupun curah jantung sudah cukup tinggi tetapi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh.
5. Gangguan pengisian (hambatan input).
Hambatan pada pengisian ventrikel karena gangguan aliran masuk ke dalam ventrikel atau pada aliran balik vena/venous return akan menyebabkan pengeluaran atau output ventrikel berkurang dan curah jantung menurun.

KLASIFIKASI
1. GAGAL JANTUNG KIRI
Gagal jantung kiri atau gagal jantung ventrikel kiri terjadi karena adanya gangguan pemompaan darah oleh ventrikel kiri sehingga curah jantung kiri menurun dengan akibat tekanan akhir diastolic dalam ventrikel kiri dan volum akhir diastolic dalam ventrikel kiri meningkat.
Gejala :
• Perasaan badan lemah
• Cepatl lelah
• Berdebar-debar
• Sesak nafas
• Batuk Anoreksia
• Keringat dingin.
• Takhikardia
• Dispnea
• Paroxysmal nocturnal dyspnea
• Ronki basah paru dibagian basal
• Bunyi jantung III

2. GAGAL JANTUNG KANAN
Gagal jantung kanan karena gangguan atau hambatan pada daya pompa ventrikel kanan sehingga isi sekuncup ventrikel kanan menurun tanpa didahului oleh adanya gagal jantung kiri
Gejala:
• Edema tumit dan tungkai bawah
• Hati membesar, lunak dan nyeri tekan
• Bendungan pada vena perifer (jugularis)
• Gangguan gastrointestinal (perut kembung, anoreksia dan nausea) dan asites.
• Berat badan bertambah
• Penambahan cairan badan
• Kaki bengkak (edema tungkai)
• Perut membuncit
• Perasaan tidak enak pada epigastrium.
• Edema kaki
• Asites
• Vena jugularis yang terbendung
• Hepatomegali

3. GAGAL JANTUNG KONGESTIF
Bila gangguan jantung kiri dan jantung kanan terjadi bersamaan. Dalam keadaan gagal jantung kongestif, curah jantung menurun sedemikian rupa sehingga terjadi bendungan sistemik bersama dengan bendungan paru.
Gejala :
• Kumpulan gejala gagal jantung kiri dan kanan.
Penatalaksanaan:
Penatalaksanaan gagal jantung kongestif dengan sasaran :
1. Untuk menurunkan kerja jantung
2. Untuk meningkatkan curah jantung dan kontraktilitas miokard
3. Untuk menurunkan retensi garam dan air.

PENATALAKSANAAN
Tirah Baring
Tirah baring mengurangi kerja jantung, meningkatkan tenaga cadangan jantung dan menurunkan tekanan darah dengan menurunkan volume intra vaskuler melalui induksi diuresis berbaring..
Oksigen
Pemenuhan oksigen akan mengurangi demand miokard dan membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.

Terapi Nitrat Dan Vasodilator Koroner
Menyebabkan vasodilatasi perifer dan penurunan konsumsi oksigen miokard.
Diuretik
Diuretik memiliki efek antihipertensi dengan meningkatkan pelepasan air dan garam natrium sehingga menyebabkan penurunan volume cairan dan merendahkan tekanan darah
Digitalis
Digitalis memperlambat frekuensi ventrikel dan meningkatkan kekuatan kontraksi, peningkatan efisiensi jantung. Saat curah jantung meningkat, volume cairan lebih besar dikirim ke ginjal untuk filtrasi dan ekskresi dan volume intravascular menurun
Inotropik Positif
Dobutamin adalah obat simpatomimetik dengan kerja beta 1 adrenergik. Efek
beta 1 meningkatkan kekuatan kontraksi miokardium (efek inotropik positif) dan meningkatkan denyut jantung (efek kronotropik positif).
Sedatif
Pemberian sedative untuk mengurangi kegelisahan bertujuan mengistirahatkan dan memberi relaksasi pada klien.
Diet
Pengaturan diet membuat kerja dan ketegangan otot jantung minimal. Selain itu pembatasan natrium ditujukan untuk mencegah, mengatur, atau mengurangi edema.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Riwayat Kesehatan Keperawatan
Keluhan Utama :
• Lemah beraktifitas
• Sesak nafas
Riwayat Penyakit Sekarang :
• Penyebab kelemahan fisik setelah melakukan aktifitas ringan sampai berat.
• Seperti apa kelemahan melakukan aktifitas yang dirasakan, biasanya disertai sesak nafas.
• Apakah kelemahan fisik bersifat local atau keseluruhan system otot rangka dan apakah disertai ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan.
• Bagaimana nilai rentang kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
• Kapan timbulnya keluhan kelemahan beraktifitas, seberapa lamanya kelemahan beraktifitas, apakah setiap waktu, saat istirahat ataupun saat beraktifitas
Riwayat Penyakit Dahulu :
• Apakah sebelumnya pernah menderita nyeri dada, darah tinggi, DM, hiperlipidemia.
• Obat apa saja yang pernah diminum yang berhubungan dengan obat diuretic, nitrat, penghambat beta serta antihipertensi. Apakah ada efek samping dan alergi obat.
Riwayat Keluarga :
• Penyakit apa yang pernah dialami keluarga dan adakah anggota keluarga yang meninggal, apa penyebab kematiannya.
Riwayat Pekerjaan dan Kebiasaan :
• Situasi tempat kerja dan lingkungannya
• Kebiasaan dalam pola hidup pasien.
• Kebiasaan merokok
Riwayat Psikososial :
• Integritas ego : menyangkal, takut mati, marah, kuatir.
• Interaksi social : stress karena keluarga, pekerjaan, kesulitan biaya ekonomi, kesulitan koping.
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Didapatkan kesadaran baik atau compos mentis dan berubah sesuai tingkat gangguan yang melibatkan perfusi system saraf pusat



BREATHING
• Terlihat sesak
• Frekuensi nafas melebihi normal
BLEEDING
• Inspeksi : adanya parut, keluhan kelemahan fisik, edema ekstrimitas.
• Palpasi : denyut nadi perifer melemah, thrill
• Perkusi : Pergeseran batas jantung
• Auskultasi : Tekanan darah menurun, bunyi jantung tambahan
BRAIN
• Kesadaran biasnya compos mentis
• Sianosis perifer
• Wajah meringis, menangis, merintih, meregang dan menggeliat.
BLADDER
• Oliguria
• Edema ekstrimitas
BOWEL
• Mual
• Muntah
• Penurunan nafsu makan
• Penurunan berat badan
BONE
• Kelemahan
• Kelelahan
• Tidak dapat tidur
• Pola hidup menetap
• Jadwal olahraga tak teratur

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Pemeriksaan fototoraks : dapat mengarah ke kardiomegali,corakan vaskuler paru menggambarkan kranialisasi,garis kerley A/B,Infiltrat prekordial kedua paru,dan efusi pleura.
 Fungsi Elektrokardiografi (EKG) : untuk melihat penyakit yang mendasari seperti infark miokard dan aritmia.
 Rongen Dada :Dapat menunjukkan pembesaran jantung,bayangan mencerminkan dilatasi/hipertrofi bilik,atau perubahan dalam pembuluh darah mencerminkan peningkatan tekanan pulmunal.
 Scan Jantung(Multigatet Acquisition(MUGA)):Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan pergerakan dinding
 Sonogram(Ekokardiogram,Ekokardigram Dapple): Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik,perubahan dalam fungsi / struktue katup,atau area penurunan kontraktilitas ventricular.
 Enzim Hepar:meningkat dalam gagal/kongesti hepar
 Elektrolit:mungkin berubah karena perpindahan cairan/penurunan fungsi ginjal,terapi terapeutik.
 AGD:Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan atau hipoksemia dengan peningkatan PCO2.
 BUN,kreatinin:peningkatan BUN menandakan penurunan perfusi ginjal.kenaikan baik BUN dan kreatinin merupakan indikasi gagal ginjal
 Albumin/transferin serum:mungkin menurun sebagai akibat penurunan masukan protein atau penurunan sintesis protein dalam hepar yang mengalami kongesti.
 HSD:Mungkin menunjukkan anemia ,polisitemia,atau perubahan kepekatan menandakan retensi air. SDR mungkin meningkat, mencerminkan MI baru/akut,perokarditis ,atau status inflamasi atau infeksius lain.
 Kecepatan Sedimantasi(ESR):mungkin meningkat,menandakan reaksi inflamasi akut.
 Pemeriksaan tiroid:Peningkatan aktivitas tiroid menunjukkan hiperaktifitas tiroid sebagai pre-pencetus GJK.


DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan kardiak output berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokard.

Rencana Intervensi :
• Kaji dan lapor tanda penurunan curah jantung.
• Periksa keadaan klien ; kaji frekuensi dan irama jantung.
• Catat bunyi jantung.
• Palpasi nadi perifer.
• Pantau dan catat haluaran urine.
• Pertahankan bedrest dengan kepala tempat tidur elevasi 30ยบ
• Berikan istirahat dengan lingkungan yang tenang.
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi untuk pemberian obat
• Pemberian cairan IV, pembatasan jumlah total sesuai indikasi, hindari cairan garam.
• Pantau EKG dan perubahan foto dada.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru sekunder perubahan membrane kapiler alveoli dan retensi cairan interstitial.
Rencana Intervensi :
• Kaji frekuensi, irama, bunyi dan dalamnya pernafasan.
• Berikan tambahan oksigen
• Pantau saturasi oksigen
• Koreksi keseimbangan asam basa.
• Beri posisi yang memudahkan meningkatkan ekspansi paru.
• Latih batuk efektif dan nafas dalam.
• Kolaborasi pemberian obat.

3. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner
Rencana Intervensi :
• Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, lamanya dan penyebarannya
• Anjurkan untuk melaporkan nyeri dengan segera
• Berikan lingkungan yang tenang, aktifitas perlahan
• Bantu melakukan teknik relaksasi
• Berikan oksigen tambahan
• Kolaborasi pemberian obat anti nyeri.
4. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan curah jantung
Rencana Intervensi :
• Kaji status mental klien
• Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaforesis secara teratur
• Kaji kualitas peristaltic kapan perlu pasang sonde.
• Kaji adanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas
• Ukur tanda vital dan periksa laboratorium.
5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kongesti vaskuler pulmonalis dan perpindahan cairan ke ekstra vaskuler.
Rencana Intervensi :
• Kaji tekanan darah
• Kaji distensi vena jugularis
• Timbang BB
• Beri posisi yang membantu drainage ekstrimitas dan latihan gerak pasif.
• Periksa laboratorium
6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan demand oksigen.
• Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum dan sesudah aktifitas
• Tingkatkan istirahat dan batasi aktifitas
• Anjurkan menghindari peningkatan tekanan abdomen
• Pertahankan klien tirah baring
• Evaluasi tanda vital saat aktifitas
• Pertahankan penambahan O2 sesuai pesanan
• Selama aktifitas kaji EKG, dispnoe, sianosis, frekuensi dan pola nafas.
• Rujuk program rehabilitasi jantung
7. Cemas berhubungan dengan hospitalisasi dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit serta penanganan yang akan didapatkan.
• Kaji tanda dan ekspresi verbal kecemasan
• Temani klien selama periode cemas
• Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan
• Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan cemasnya
• Lakukan pendekatan dan komunikasi
• Berikan penjelasan tentang penyakit, penyebab dan penanganannya
• Kolaborasi pemberian obat anti cemas.
8. Risiko kambuh berhubungan dengan ketidaktahuan mengenai perawatan gagal jantung.
Rencana Intervensi :
• Diskusikan mengenai fungsi normal jantung.
• Jelaskan manfaat diet rendah garam, rendah lemak dan mempertahankan berat yang ideal.
• Jelaskan kepada klien dan keluarga mengenai factor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kambuh.
• Jelaskan untuk memeriksa diri bila ada tanda-tanda kambuh.
• Menyarankan kepada keluarga untuk memanfaatkan sarana kesehatan dim masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA


Juall.Lynda.Carpenito.2006, Buku Saku Diagnosa Keperawatan .Jakarta:EGC
Mansyoer.Arif.dkk.2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:EGC
Khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/01/askep gagal jantung

Minggu, 14 Februari 2010

LARINGITIS

LARINGITIS

1. KONSEP DASAR PENYAKIT
A. Laringitis Akut
Umumnya merupakan kelanjutan dasri rinofaringitis akut atau manifestasi dan radang saluran napas atas. Pada anak dapat menimbulkan sumbatan jalan napas dengan cepat karena tima glotisnya relatif lebih sempit.
1. Etiologi
Bakteri (local) atau virus (sistemik). Biasanya merupakan perluasan radang saluran napas atas oleh bakteri Haemophilus influenzae. Stafilokok, streptokok, dan pneumokok.
2. Faktor Predisposisi
Perubahan cuaca/suhu, gizi kurang malnutrisi, imunisasi tidak lengkap, dan pemakaian suara berlebihan.
3. Manifestasi Klinis
Demam, malaise, gelaja rinigaringitis, suara parau sampai afoni, nyeri ketika menelan atau berbivara, rasa kering ditenggorokan, batuk kering yang kelamaan disertau dahak kental, gejala sumbatan laring sampai sianosis.
Pada pemeriksaan, tampak mukosa laring hiperemis, membengkak, terutama di atas dan bahwa pita suara. Biasanya tidak terbatas di laring, juga ada tanda radang akut dihitung sinus peranasak, atau paru
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan apusan dari laring untuk kultur dan uji resistensi pada kasus yang lama atau sering residif.
5. Penatalaksanaan
Istirahat bicara dan bersuara selama 2-3 hari menghirup udara lemab dan menghindari iritasi pada laring dan faring. Untuk terapi mendikamentosa diberikan antibiotic penisilin anak 3 x 0 kg BB dan dewasa 3 x 500 mg. bila alergi dapat diganti eritromisin atau basitrasin. Dan diberikan kortikosteroid untuk mengatasi edema. Dipasang pipa endotrakea atau trakeostomi bila terdapat sumbatan laring.

B. Laringitis Kronik
a. Etiologi
Berdasarkan etiologi dapat dibagi atas laryngitis kronik non spesifik dan spesifik
Laringistik kronik nonspesifik dapat disebabkan faktor eksogen (rangsangan fisik oleh pepenyalahgunaan suara, rangsangan kimia, infeksi kronik saluran napas atas atau bawah, asap rokok) atau faktor endogen (bentuk tubuh, kelamin metabolik). Sedangkan yang spesifik disebabkan tuberculosis dan sifilis
b. Manifestasi Klinis
Suara parau yang menetap, rasa tersangkut di tenggorok sehingga sering mendehem tanpa sekret.
Pada pemeriksaan tampak mukosa laring hiperemis. Tidak rata, dan menebal. Bila tumor dapat dilakukan biopsi.
c. Penatalaksanaan
Diminta untuk tidak banyak bicara dan mengonati peradangan di hitung, faring, serta bronkus yang mungkin menjadi penyebab. Diberikan antibiotik bila terdapat tanda infeksi dan ekspektoran. Untuk jangka pendek dapat diberikan steroid.

C. Laringitis Tuberkulosis
a. Etiologi
Hampir selalu disebabkan tuberculosis paru. Setelah diobati biasanya tuberculosis paru sembuh namun aringitis tuberkulosisnya menetap, karena struktur mukosa laring sangat lekat pada kartilago serta vaskularisasi tidak sebaik paru.
b. Manifestasu Klinis
Terdapat gejala demam, keringat malam, penurunan berat badan, rasa kering, panas, dan tertekan di daerah laring, suara parau beriminggu-minggu dan pada stadium lanjut dapat afoni, bentuk produktif, gemoptisis, nyeri menelan yang lebih hebat bila gejala-gejala proses aktif pada paru. Dapat timbul sumbatan jalan napas karena edema: tumberkuloma, atau paralysis pita suara.
Sesuai dengan stadium dari penyakit, pada laringoskop akan terlihat:
 Stadium infiltrasiL mukosa laring membengkak, hiperemis (bagian posterior), dan pucar. Terbentuk tuberkel di daerah submukosa, tampak sebagai bintik-bintik kebiruan. Tuberkel membesar, menyatu sehingga mukosa di atasnya meregang. Bila pecah akan timbul ulkus.
 Stadium ulserasi: ulkus membesar, dangkal, dasarnya ditutupi perkijuan dan terasa.
 Stadium perikondritis: ulkus makin dalam mengenai kartilago laring, kartilagi aritenoid, dan epiglottis/ terbentuk nanah yang berbau sampai terbentuk sekuester. Keadaan umum pasien sangat buruk, dapat fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara, dan subglotik
c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium hasil tahan asam dari sputum atau bilasan lambung, foto toraks menunjukkan tanda proses spesifik baru, laringoskopi langsung/tak langsung, dan pemeriksaan PA.
d. Diagnosis Banding
Laryngitis luetika, karsinoma laring, aktinomikosis laring, dan lupus vulgaris laring
e. Penatalaksanaan
Istirahat suara dan obat antituberkulosis primer dan skunder. Trakeostomi bila timbul sumbatan jalan napas
f. Prognosis
Bergantung pada keadaan social ekonomi pasien kebiasaan hidup sehat, dan ketekunan berobat. Prognosis baik diagnosisi dapat ditegakkan pada stadium dini.


2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Riwayat kesehatan pasien yang lengkap yang menunjukkan kemungkinan tanda dan gejala sakit kepala, sakit tenggorok, dan nyeri sekitar mata dan pada kedua sisi hidung, kesilutan menelan, batuk, suara serak, demam, hidung tersumbat, dan rasa tidak nyeman umum dan keletihan. Menetapkan kapan gejala mulai timbul, apa yang menjadi pencetusnya, apa yang bisa menghilangkan atau meringankan gejala tersebut, dan apa yang memperburuk gejala tersebut adalah bagian dari pengkajian, juga mengidentifikasi setiap riwayat alergi atau adanya penyakit yang timbul bersamaan.Inspeksi menunjukkan pembengkakan, lesi atau asimetris hidung, juga pendarahan atau rabas. Mukosa hidung diinspeksi terhadap temuan abnormal seperti warna kemerahan, pembengkakan, atau eksudat dan polip hidung, yang mungkin terjadi dalam rhinitis kronis.
Sinus frontal dan maksilaris dipalpasi terhadap nyeri tekan, yang menunjukkan inflamasi. Tenggorok diamati Dengan meminta klien membuka mulutnya lebar-lebar dan nafas dalam. Tonsil dan faring diinspeksi terhadap temuan abnormal seperti warma kemerahan, asimetris, atau adanya drainase, ulserasi, atau pembesaran.
Trakea dipalpasi terhadap posisi garis tengah dalam leher, dan setiap massa atau deformitas diidentifikasi. Nodus limfe leher juga dipalpasi terhadap pembesaran dan nyeri tekan yang berkaitan.
B. Diagnosa Keperawatan
1.Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan Dengan sekresi berlebihan sekunder akibat proses inflamasi
Hasil yang ingin dicapai : Menunjukkan jalan nafas paten, Dengan binyi nafas bersih, tak ada dispnea
Intervensi
Kaji frekwensi atau kedalaman pernafasan dan gerakan dada.
R/: Takipnea, pernafasan dangkal, dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan atau cairan paru.
Auskultasi area paru, catat area penurunan, atau tak ada aliran udara dan bunyi nafas adventisius, mis: krekels, mengi.
R/: Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi Dengan cairan. Bunyi nafas bronchial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsolidasi. Krekels, ronkhi, dan mengi terdengar pada inspirasi dan atau ekspirasi pada respon terhadap pengumpulan cairan, secret kental, dan spasme jalan nafas/ obstuksi.
Bantu pasien latihan nafas sering, tunjukkan atau Bantu pasien mempelajari, melakukan batuk, mis: menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi.
R/: Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru atau jalan nafas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan nafas paten. Penekana menurunkan ketidaknyamanan badan dan posisi duduk memungkinkan upaya nafas lebih dalam dan lebih kuat.
Berikan cairan sedikitnya 2500 mL /hari (kecuali kontraindikasi) Tawarkan air hangat, daripada dingin.
R/: Cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret.
Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspektoran, bronkodilator, analgesic.
R/: Alat untuk menurunkan spasme bronkus Dengan mobilisasi secret. Analgesik diberikan untuk memperbaiki batuk Dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati, karena dapat menurunkan upaya batuk atau menekanpernafasan.
2.Nyeri yang berhubungan dengan iritasi laring sekunder akibat infeksi.
Kemungkinan dibuktikan oleh : sakit kepala, nyeri otot dan sendi, perilaku distraksi,gelisah.
Intervensi :
Berikan tindakan nyaman mis : pijtan punggung, perubahan posisi, perbincangan, relaksasi/latihannafas.
R/: Tindakan non analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memeperbesar efek terapi analgetik.
Tawarkan pembersihan mulut dengan sering
R/: Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan membran mukosa, potensial ketidaknyamanan umum.
Kolaborasi
Berikananalgesikdanantitusif sesuai indikasi.
R/: Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/paroksismal atau menurunkan mukosa berlebihan,meningkatkan kenyamanan/istirahat umum.
3. Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi atau pembengkakan.
Intervensi:
Berikan pilihan cara komunikasi yang lain seperti papan dan pencil
R/: Cara komunikasi yang lain dapat mengistirahatkan laring untuk berkomunikasi secara verbal sehingga dapat meminimalkan penggunaan pita suara.
Berikan komunikasi non verbal, contoh sentuhan dan gerak fisik, antisipasi kebutuhan.
R/: Sentuhan diyakini untuk memberikan peristiwa kompleks biokimia Dengan kemungkinan pengeluaran endokrin yang menurunkan ansietas.

Selasa, 02 Februari 2010

APENDIKSITIS

APENDIKSITIS


A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Pengertian
1) Appendiks adalah : Organ tambahan kecil yang menyerupai jari, melekat pada sekum tepat dibawah katup ileocecal ( Brunner dan Sudarth, 2002 hal 1097 ).
2) Appendicitis adalah : suatu peradangan pada appendiks yang berbentuk cacing, yang berlokasi dekat katup ileocecal (long, Barbara C, 1996 hal 228)
3) Appendicitis adalah : Peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. (Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307)

2. Anatomi
1) Anatomi Appendiks
a. Letak di fossa iliaca kanan, basis atau pangkalnya sesuai dengan titik Mc Burney 1/3 lateral antara umbilicus dengan SIAS.
b. Basis keluar dari puncak sekum bentuk tabung panjang 3 – 5 cm.
c. Pakal lumen sempit, distal lebar. (Farid 3, 2001)
2) Usus besar merupakan tabung muscular berongga dengan panjang sekitar lima kaki (sekitar 1,5 m) yang terbentang dari sekum sampai kanalis ani. Diameter usus besar sudah pasti lebih besasr dari usus kecil. Rata –rata sekitar 2,5 1nc. (sekitar 6,5 cm) tetapi makin dekat anus diameternya makin kecil. Usus besardibagi menjadi sekum, colon, dan rectum. Pada sekum terdapat katup ileosecal dan Appendiks yang melekat pada ujung sekum. Colon dibagi lagi menjadi colon asendens, transversum desendens dan sigmoid. Tempat dimana colon membentuk kelokan tajan yaitu pada abdomen kanan dan kiri atas berturut – turut dinamakan fleksura hepatica dan fleksura lienalis. Colon sigmoid mulai setinggi Krista iliaka dan membentuk S. lekukan rectum. Pada posisi ini gaya berat membantu mengalirkan air dari rectum ke fleksura sigmoid. Rectum terbentang dari colon sigmoid sampai anus ( Silvia A. Price, Lorraina, M Wilson 1995)

3. Fisiologi
1 Appendiks menghasilkan lendir 1 – 2 ml perhari.
2 Lendir itu secara normal dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir dimuara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendicitis.
Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymfoid Tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks.
3 Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.
4 Namun demikian pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh sebab jumlah jaringan limfa disini kecil sekali jika dibandingkan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh.

4. Etiologi
Appendicitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi Yaitu :
a. Factor yang tersering adalah obtruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena :
§ Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak
§ Adanya faekolit dalam lumen appendiks
§ Adanya benda asing seperti biji – bijian
§ Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya
b. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus
c. Laki – laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 – 30 tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.

d. Tergantung pada bentuk appendiks
1) Appendik yang terlalu panjang
2) Messo appendiks yang pendek
3) Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
4) Kelainan katup di pangkal appendiks

5. Patofisiologi
Penyebab utama appendiksitis adalah obstuksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab terbanyak adanya fekalit dalam lumen appendik.Adanya benda asing seperti : cacing,striktur karenan fibrosis akibat adanya peradangan sebelunnya.Sebab lain misalnya : keganasan (Karsinoma Karsinoid)
Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.
Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi. Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).
Appendiksitis sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun. Pada wanita dan laki-laki insidennya sama terjadi kecuali pada usia pubertas.Dan usia 25 tahun lebih banyak dari laki-laki dengan perbandingan 3 : 2.

6. Manisfestasi klinis
Nyeri kuadran kanan bawah biasanya disertai dengan demam derajat rendah, mual, dan sering kali muntah. Pada titik McBurney (terletak dipertengahan antara umbilicus dan spina anterior dari ilium) nyeri tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku dari bagian bawah otot rectum kanan.
Nyeri alih mungkin saja ada, letak appendiks mengakibatkan sejumlah nyeri tekan, spasme otot, dan konstipasi atau diare
Tanda rovsing dapat timbul dengan mempalpasi kuadran bawah kiri, yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran kanan bawah.
Jika terjadi ruptur appendiks, maka nyeri akan menjadi lebih menyebar, terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk.

7. Test Diagnosa
Untuk menegakkan diagnosa pada appendicitis didasarkan atas annamnesa ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
a. Gejala appendicitis ditegakkan dengan anamnesa, ada 4 hal yang penting adalah :
1) Nyeri mula – mula di epeigastrium (nyeri visceral) yang beberapa waktu kemudian menjalar keperut kanan bawah.
2) Muntah oleh karena nyeri visceral
3) Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus)
4) Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit, menghindarkan pergerakan di perut terasa nyeri
b. Pemeriksaan yang lain
1) Lokalisasi
Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh perut,tetapi paling terasa nyeri pada titik Mc Burney. Jika sudah infiltrat, insfeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit, dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney
2) Test Rectal
Pada pemeriksaan rectal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
3) Pemeriksaan Laboratorium
a. Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang pada appendicitis akut dan perforasi akan terjadi leukositosis yang lebih tinggi lagi.
b. Hb (hemoglobin) nampak normal
c. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan appendicitis infiltrate
d. Urine penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
4) Pemeriksaan Radiologi
Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosaappendicitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut :
a. Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan.
b. Kadang ada fekolit (sumbatan)
c. Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma



8. Komplikasi
Apabila tindakan operasi terlambat, timbul komplikasi sebagai berikut :
1) Peritonitis generalisata karena ruptur appendiks
2) Abses hati
3) Septi kemia

9. Penatalaksanaan
a. Perawatan prabedah perhatikan tanda – tanda khas dari nyeri
Kuadran kanan bawah abdomen dengan rebound tenderness (nyeri tekan lepas), peninggian laju endap darah, tanda psoas yang positif, nyeri tekan rectal pada sisi kanan. Pasien disuruh istirahat di tempat tidur, tidak diberikan apapun juga per oral. Cairan intravena mulai diberikan, obat – obatan seperti laksatif dan antibiotik harus dihindari jika mungkin.
b. Terapi bedah : appendicitis tanpa komplikasi, appendiktomi segera dilakukan setelah keseimbangan cairan dan gangguan sistemik penting.
c. Terapi antibiotik, tetapi anti intravena harus diberikan selama 5 – 7 hari jika appendicitis telah mengalami perforasi.

10. Diagnosa Banding
a. Adenisitis Mensentrik.
b. Kista ovari
c. Koletiasis
d. Batu ginjal/uretra.
e. Diverkulitis

11. Pencegahan
Pencegahan pada appendiksitis yaitu dengan menurunkan resiko obstuksi dan peradangan pada lumen appendiks. Pola eliminasi klien harus dikaji,sebab obstruksi oleh fekalit dapat terjadi karena tidak ada kuatnya diit tinggi serat.Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga menimbulkan resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda appendiksitis menurunkan resiko terjadinya gangren,perforasi dan peritonitis.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Anamnese Dan Pemeriksaan Fisik
1) Aktivitas atau istirahat
Gejala : Malaise
2) Sirkulasi
Tanda : Takikardi
3) Eliminasi
Gejala : Konstipasi pada awitan
Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan atau lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
4) Makanan Cairan
Gejala : Anoreksia, mual atau muntah
5) Nyeri atau kenyamanan
Gejala :
• Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney (setengah jarak antara umbilicus dan tulang ileum kanan). Meningkat karena berjalan, bersin, batuk atau napas dalam.
• Keluhan berbagai rasa nyeri/ gejala tidak jelas (sehubungan dengan lokasi appendiks, contoh retrosekal atau sebelah ureter).
Tanda :
• Prilaku berhati – hati berbaring kesamping atau terlentang dengan lutut ditekuk : meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi
• Ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak
• Nyeri lepas pada sisi kiri diduga inflamasi peritoneal.

6) Keamanan
Tanda : demam (biasanya rendah)
7) Pernapasan
Tanda : takipnea, pernapasan dangkal (Marilyn E. doenges, 508 – 505, 2000)
8) Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat kondisi lain yang berhubunngan dengan nyeri abdomen contohnya pielis akut, batu uretra, salpingitis akut, ileitis regional. Dapat terjadi pada berbagai usia
Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat: 4,2 hari
Rencana pemulangan : Membutuhkan bantuan sedikit dalam transportasi tugas pemeliharaan rumah
b. Pemeriksaan Diagnostik
SDP : Leukositosis diatas 12.000/mm3, neutrofil menungkat
sampai 75 %
Urinalisis : normal tetapi erytrosit/leukosit mungkin ada
Foto Abdomen : Dapat menyatakan adanya pergeseran material dari apendiks (fekalit), ileus terlokalis
c. Pemeriksaan radiologi.
Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit. Namun pemeriksaan ini jarang membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis. Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis apendisitis (71 – 97 %), terutama untuk wanita hamil dan anak-anak. Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan pemeriksaan CT scan (93 – 98 %). Dengan CT scan dapat terlihat jelas gambaran apendiks.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada daerah mesial abdomen post operasi appendiktomi
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya jalan masuk kuman pada daerah post operasi appendiktomi
d. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral

3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
a. Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada daerah mesial abdomen post operasi appendiktomi
TUJUAN
Nyeri berkurang/hilang dengan kriteria :
Tampak rilek dan dapat tidur dengan tepat
1) Kaji skala nyeri lokasi, karakteristik dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat
2) Pertahankan istirahat dengan posisi semi powler
3) Dorong ambulasi dini
4) Berikan aktivitas hiburan
5) Kolborasi tim dokter dalam pemberian analgetika
RASIONAL
1) Berguna dalam pengawasan dan keefesien obat, kemajuan penyembuhan,perubahan dan karakteristik nyeri.
2) Menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang
3) Meningkatkan kormolisasi fungsi organ
4) Meningkatkan relaksasi
5) Menghilangkan nyeri
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri
TUJUAN
Toleransi aktivitas dengan kriteria :
- Klien dapat bergerak tanpa pembatasan
- Tidak berhati-hati dalam bergerak

INTERVENSI
1. Catat respon emosi terhadap mobilitas
2. Berikan aktivitas sesuai dengan keadaan klien
3. Berikan klien untuk latihan gerakan gerak pasif dan aktif
4. Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang memberatkan
RASIONAL
1. Immobilisasi yang dipaksakan akan memperbesar kegelisahan
2. Meningkatkan kormolitas organ sesuiai dengan yang diharapkan
3. Memperbaiki mekanika tubuh
4. Menghindari hal yang dapat memperparah keadaan.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya jalan masuk kuman pada daerah post operasi appendiktomi
TUJUAN
Infeksi tidak terjadi dengan kriteria :
- Tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradangan
INTERVENSI
1. Ukur tanda-tanda vital
2. Observasi tanda-tanda infeksi
3. Lakukan perawatan luka dengan menggunakan teknik septik dan aseptik
4. Observasi luka insisi
RASIONAL
1. Untuk mendeteksi secara dini gejala awal terjadinya infeksi
2. Deteksi dini terhadap infeksi akan mempermudah dalam
3. Menurunkan terjadinya resiko infeksi dan penyebaran bakteri.
4. Memberikan deteksi dini terhadap infeksi dan perkembangan luka
d. Resiko kekurangan volume cairan berhubungna dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral
TUJUAN
Kekurangan volume cairan tidak terjadi
INTERVENSI
1. Ukur dan catat intake dan output cairan tubuh
2. Awasi vital sign: Evaluasi nadi, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
3. Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian cairan intra vena
RASIONAL
1. Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan atau kebutuhan pengganti.
2. Indikator hidrasi volume cairan sirkulasi dan kebutuhan intervensi
3. Mempertahankan volume sirkulasi bila pemasukan oral tidak cukup dan meningkatkan fungsi ginjal


POHON MASALAH













DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Jual, Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, 2000, Jakarta.
Doenges, Marlynn, E, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi III, EGC, 2000, Jakarta.
Elizabeth, J, Corwin, Biku Saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.
Ester, Monica, SKp, Keperawatan Medikal Bedah (Pendekatan Gastrointestinal), EGC, Jakarta.
Peter, M, Nowschhenson, Segi Praktis Ilmu Bedah Untuk Pemula. Bina Aksara Jakarta
by Khaidir muhaj di www.google.com(askep pada apendiksitis)