PENYAKIT PARU RESTRIKTIF
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Pendahuluan
Pada penyakit paru restriktif terjadi keterbatasan ekspensi total paru-paru. Volume statis paru berkurang atau menghilang sebagai akibat penurunan komplians paru atau toraks. Klien dengan gangguan restriktif menunjukkan alkalosis respiratorik (yang disebabkan oleh peningkatan kompensasi dalam frekuensi atau kecepatan pernapasan untuk mengimbangi hilangnya volume paru). Jika peningkatan frekuensi pernapasan tidak dapat lagi mengopensasi volume paru yang hilang, maka akan terjadi hipoksemia (oksigen darah arteri rendah). Secara klinis individual dengan gangguan restriktif menunjukkan dispnea tingkat tertentu. Mereka sering menjadi dispnea saat melakukan aktivitas disik. Dengan progesi penyakit, individu akan mengalami dispnea saat istirahat. Selain itu individu dengan penyakit paru restriktif sering mempunyai bentuk kering. Tabel 5-1 menyajikan gangguan utama yang mengabaikan gangguan ventilatori restriktif primer.
2. Klasifikasi
Atelektasis
a. Definisi
o Atelektasi adalah penyakit restriktif akut yang umum terjadi, mencakup kolaps jaringan paru atau unit fungsional paru. Atelektasis merupakan masalah umum klien pascaoperasi. (KMB, Monica Ester S.Kep)
o Ateletaksis adalah ekspansi yang tidak sempurna paru saat lahir (ateletaksis neokatorum) atau kolaps sebelum alveoli berkembang sempurna, yang biasanya terdapat pada dewasa yaitu ateletaksis didapat (acovired aeletacsis) (buku ajar patologi II, Robins dan kumar)
b. Macam-macam Atelektasis
Atelektasis Neonatorum
Bentuk ini terbagi menjadi primer dan sekunder. Atelektasis primer neonatorum berarti bahwa respirasi belum pernah terjadi sepenuhnya. Banyak terjadi pada bayi prematur, di mana pusat pernapasan dalam otak tidak matur dan gerakan pernapasan masih terbatas. Faktor pencetus termasuk komplikasi persalinan yang menyebabkan hipoksia intrauter.
Pada autopsy, paru tampak kolaps, berwarna merah kebiruan, non crepitant, lembek dan alastis. Yang khas paru ini tidak mampu mengembang di dalam air. Secara histologis, alveoli mempunyai paru bayi, dengan ruang alveoli kecil yang seragam, dilapisi dindingin septa yang tebal yang tampak kisut. Epitel kubis yang prominem melaposi rongga alveoli dan sering terdapat edapan protein granular bercampur dengan debris amnion dan rongga udara.
Atelektasi neonatorum pada sistem, gawat napas, telah di bahas disebelumnya.
Atelektasis Acquired atau Didapat
Atelektasis pada dewasa, termasuk gangguan intratoraks yang menyebabkan kolaps dari ruang udara, yang sebelumnya telah berkembang. Jadi terbagi atas atelektasis absorpsi, kompresi, kontraksi dan bercak (gambir 13.7). istilah ini banya menyangkut mechanisme dasar yang menyebabkan paru kolaps atau pada distribusi dari perubahan tersebut.
Altelektasis absorpsi terjadi jika saluran pernapasan sama sekali tersumbat sehingga udara tidak dapat memasuki bagian distal parenkim. Udara yang telah tersedia secara lambat laun memasuki aliran darah, disertai dengan kolapsnya alveoli. Tergantung dari tingkat obstruksi saluran udara, seluruh paru, merupakan lobus yang lengkap, atau bercak segmen dapat terlibat. Penyebab tersering dari kolaps absorbsi adalah abstruksi bronchus oleh suatu sumbatan mucus. Hal ini sering terjadi pasca operasi. Asma bronchial, bronkiektasis dan bronchitis akut serta kronis, dapat pula menyebabkan obstruksi akut serta kronis. Dapat pula menyebabkan obstruksi akut serta kronis, dapat pula menyebabkan obstruksi karena sumbatan bahan mukopurulen. Kadang-kadang obstruksi disebabkan oleh aspirasi benda asing atau bekuan darah, terutama pada anak atau selama operasi rongga mulut atau anestesi. Saluran udara dapat juga ter sumbat oleh tumor, terutama karsinoma bronkogenik dengan pembesaran kelenjar getah bening (seperti pada tuberculosis, contohnya) dan oleh aneurisma pembuluh darah.
Atelektasis kompresi paling sering dihubungkan dengan penimbunan cairan darah atau udara dalam kavum pleura, yang secara mekanis menyebabkan kolaps paru di sebelahnya. Ini adalah kejadian yang sering pada efusi pleura dari penyebab apa pun, namun mungkin yang paling sering dihubungkan dengan hidrotoraks pada payah jantung kongesti. Pneumotoraks dapat juga menyebabkan atelektasis kompresi pada penderita dengan tirah baring dan penderita denan asites, atelaktasis basal menyebabkan posisi diafragma yang lebih tinggi.
Atelektasis kontraksi terjadi bila perubahan fibrosis pada paru dan pleura yang menghambat ekspensi dan meningkatkan daya pegas pada ekspirasi.
Atelektasis bercak bearti adanya daeah kecil-kecil dari kolaps paru, sepeti terjadi pada obstruksi bronkioli yang multiple karena sekresi atau eksudat pada kedua sindrom gawat napas orang dewasa dan bayi.
Pada sebagian kecil kasus, atelektasis terjadi karena patogenesis tertentu yang menyertai jelas pada dinding dada.
Atelektasis didapat (acquired) dapat akut atau kronis. Biasanya timbul karena sumbatan mucus yang relatif akut, yang menjadi manifest karena mendadak timbul sesak napas. Memang peristiwa sesak napas akut dalam 48 jam setelah satu prosedur pembedahan, hampir selalu didiagnosis sebagai atelektasis. Yang penting adalah atelektasis dapat didiagnosis dini dan terjadi reekspensi yang tepat dari paru yang terkena, karena perenkim yang kolaps amit peka terhadap infeksi yang menunggagi. Atelektasis persisten segmen paru mungkin merupakan bagian penting untuk terjadinya karsinoma bronkogenik yang diam-diam.
c. Tanda dan Gajala
Mungkin tidak didapatkan kelainan apa-apa selain dari penyakit yang mendasarinya, walaupun pada pasien dengan atelektasis yang luas mengelur nyeri dada, batuk dan dispnea. Pada pemeriksaan fisik mugkin tidak didapatkan kelainan dan bila ada, biasanya tidak spesifik berupa: krepetasi, suara napas, melemah atau ketika diperkusi dan sisi yang sakit didapatkan pekak.
d. Patofisiologi
Atelektasis adalah istilah yang berarti "Ekspensi Taksempurna" dan kondisi ini menunjukkan bahwa pada bagian paru yang terganggu mengalami kehilangan udara dan kolapa. Penting untuk diingat bahwa atelektasis berbeda dengan pneumotoraks. Meski pada kedua kondisiini terjadi karena alveoli mengalami kurang inflasi atau takterinflasi, sementara peneumotoraks terjadi karena udara memasuki ruang pleural.
e. Pencegahan atelektasis
1. Dorong klien untuk napas dalam dan bentuk efektif untuk mencegah penumpulan sekresi dan untuk mengeluarkan eksidat.
2. Ubah posisiklien dengan sering dan teratur, terutama dari posisi telentang ke posisi tegak, untuk meningkatkan ventilasi dan mencegak akumulasi sekresi.
3. Tingkatkan ekspensi dada yang repat selama bernapas untuk penyebaran udara dalam paru-paru secara menyeluruh.
4. Berikan medikasi atau sedatif secara biajaksana untuk mencegah depresi pernapasan.
5. Lakukan pengisapan untuk mengeluarkan sekresi trakheobron khiolar.
6. Lakukan drainase postural dan perkusi dada.
7. Dorong aktivitas atau ambulasi dini.
8. Ajarkan teknik sporometri insensif yang tepat.
f. Penatalaksanaan Klien
Pengobatan atelektasis didasarkan pada etiologi penyakit. Namun demikian pencegahan adalah faktor terpenting. Kerangka kerja terapi yang mendasar adalah mobilisasi dini dan perubahan posisi sering pada klien tirah baring atau klien pascaoprasi. Napas dalam dengan teratur penting karena pada klien ini umunya terjadi penurunan kesadaran akibat pengaruh anestesi, penurunan mobilitas, dan nyeri (Hanneman, 1995). Bronchodilator dan mukolitik, jika diindikasikan, dan fisioterapi dada akan sangat membantu, ventilasi yang adekuat dapat ditingkatkan denan perubahan posisi, batuk efektif, napas dalam, atau spirometri insentif.
Tanggung jawab keperawatan dalam hal ini adalah memberikan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya teknik pernapasan termasuk latihan napas dalam dan teknik batuk efektif, dan aktifitas fisik lainnya sesuai dengan toleransi klien. Tindakan ini terutama penting untuk klien pascaoperatif dan tirah baring.
Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS)
a) Definisi
Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS) adalah istilah yang diterapkan untuk sindrom gagal napas hipoksemia akut tanpa hiperkapnea. Sindrom ini pertama kali diperkenalkan oleh T J Petty pada tahun 1967.
ARDS adalah suatu kondisi yang ditandai oleh hipoksemia barat, dispnea dan infiltrasi pulmonary bilateral. ARDS menyebabkan penyakit restriktif yang sangat parah. ARDS pernah dikenal dengan banyak nama termasuk syok paruh, paru-paru basah traumatic, sindrom kebocoran kapiler, postoerfusi paru, atelektasis kongestif dan insufisiensi pulmonal postraumatik. Sindrom ini tidak pernah timbul sebagai penyakit primer, tetapi sekunder akibat gangguan tubuh yang terjadi. (KBM, Monica Ester, S.Kep)
ARDS adalah bentuk penyakit paru yang menyeluruh yang menyebabkan beberapa variasi dari kondisi klinik, beberapa di antaranya adalah gangguan penyakit non paru. Jadi bukan penyakit primer. (Buku Ajar Patologi II, Robins dan Kumar)
b) Kondisi klinis yang menyebabkan ARDS
1. Syol sepsis, hemoragi, kardiogenik, dan anafinaktik
2. Trauma, kontusio pulmonal, nonpulmonal dan multisistem
3. Infeksi: pneumonia (virus, bakteri {streptokokus atau stafilokokus}, tuberculosis miliaris).
4. Koagulasi intravascular diseminata (DIC)
5. Emboli lemak.
6. Aspirasi: Kandungan lambung yang sangat asam (pH kurang dari 2,5).
7. Menghirup agens beracun: asap, fosgen, nitrogen oksida.
8. Pankreatitis.
9. Toksistas oksigen
10. Penyalahgunaan obat narkotik: heroin, metadon.
11. Obat-obatan: etklorvinol, salisilat,
c) Potofisiologi
Perubahan patofisiologis yang mengakibatkan ARDS secara khas diawali oleh trauma mayor pada tubuh, seringkali merupakan serangan fisik terhadap sistem tubuh ketimbang sistem pulmonary. Perubahan patofisiologis berikut ini mengakibatkan sindrom klinis yang sebagai ARDS (Phipps, et al, 1995):
1) sebagai konsekuensi dari serangan pencetus, complement cascade menjadi aktif, yang selanjutnya meningkatkan permeabilitas dinding kapiler.
2) Cairan, leukosit granular, sel-sel darah merah (SDM), makrofag, sel debris, dan protein bocor ke dalam ruang interstisial antarkapiler dan alveoli dan pada akhirnya ke dalamruang alveolar.
3) Karena terdapatnya cairan dan debris dalam unterstisium dan alveoli, maka area permukaan untuk pertukaran oksigen dan karbon dioksida menurun, sehingga mengakibatkan rendahnya rasio ventilasi/perfusi (V/Q) dan hipoksemia.
4) Terjadi hiperventilasi kompensasi dari alveoli fungsional, sehingga mengakibatkan hipokapnea dan alkalosis respiratorik.
5) Sel-sel yang normalnya melapisi alveoli menjadi rusak dan diganti oleh sel-sel yang tidak menghasilkan surfakten, dengan demikian meningkatkan tekanan pembukaan alveolar.
PROSES PATOFISIOLOGI DARI SINDROM
GAWAT NAFAS PADA DEWASA
d) Manifestasi Klinis ARDS
Tanda dan gejala ARDS:
1. Distres pernapasan akul: takipnes, dispnea, pernafasan menggunakan otot aksesori, dan sianosis sentral.
2. Batuk kering dan demam yang terjadi lebih dari beberapa jam sampai seharian
3. Krakles harus di seluruh bidang paru.
4. Perubahan sensorium yang berkisar dari kolam pikir dan agitasi sampai koma.
Temuan hasil pemeriksaan radiology dan laboratorium:
1. Film ronsen dada: menunjukkan infiltrasi interstisial dan alveolar difus, bilateral, dan biasanya simetris.
2. AGD: hipoksemia, PaO2 kurang dari 50 mm Hg, hipokapnea, alkalosis respiratirik, tahap lanjut: hiperkapnea dan alkalosis respiratorik dan kematian.
e) Penatalaksanaan Medis ARDS
Klien dengan ARDS berada dalam keadaan sakit kritis dan sangat baik ditangani di unit perawatan intensif (ICU). Penatalaksanaan medis difokuskan pada oksigenasi. Pada awalnya mungkin diperlukan untuk memberikan oksigen dengan konsentrasi tinggi (100% - dengan menggunakan masker wajah nonrebreathing). Namun demikian, pemberian oksigen melebihi 50% berkaitan dengan toksisitas oksigen yang dapat memperburuk patologi ARDS yang sudah terjadi. Konsentrasi oksigen biasanya dapat diturunkan kurang dari 50% berkaitan dengan menggunakan positive-end-expiratory pressure (PEEP) untuk membuka alveoli yang tertutup guna meningkatkan ventilasi. Tujuan pemberian oksigen adalah untuk mempertahankan PaO2 antara 50-60 mm Hg. Secara bertahap FiO2 dikurangi sambil mempertahankan tingkat oksigen arteri yang adekuat.
Penatalaksanaan medis kedua adalah dukungan ventilator. Jika terapi oksigen saja tidak berhasil dalam memberikan oksigenasi arterial yang adekat, maka klien diintubasi dan dipantau dalam ventilator mekanik. Ventilator dengan volume terbatas biasanya lebih banyak digunakan. Ventilator diatur untuk memberikan volume tidal yang sebanding dengan 10 sampai 12 ml/kg berat badan, frekuensi pernafasan sebanding dengan 10 sampai 14 kali/menit, dan FiO2 50%; dan digunakan PEEP. Jika pernapasan spontan individu adekuat, maka digunakan mode intermittent mandatory ventilasi (IMV). Jika pola ventilatori spontan mengganggu dengan pemberian ventilasi yang adekuat, maka klien disedasi atau dilumpuhkan dengan Pavulon, dan kemudian digunakan mode kontrol.
Penatalaksanaan volume cairan juga menjadi focus dari penatalaksanaan medis. Biasanya dipasang kateter arteri pulmonary untuk mengukur tekanan kapiler pulmonary. Diuretic, ekspender volume cairan, dan medikasi hipotensi diberikan sesuai indikasi untuk mempertahankan volume cairan yang optimal. Focus terakhir dari penatalaksanaan medis adalah mengobati penyebab mendasar dari ARDS.
B.KONSEP DASAR KEPERAWATAN
ATELEKTASIS
Pengkajian
1. Observasi/temuan
2. Peningkatan suhu tubuh
3. Bunyi nafas
a. Tidak terdengar/menurun di atas daerah yang terkena
b. Krekels
c. Egogoni dan bronkofoni
4. Tekipneu
5. Takikardia
6. Suilit dalam pernapasan
7. Sesak napas
8. Pernapasan cuping hudung
9. Ansietas
10. Gelisah
11. Gerakan dada simentris pada inspirasi
12. Pemeriuksaan labiratrium/diagnostic
13. Gas-gas daerah arteri
Penurunan PaO2
PaCO2 normal/menurun
Atelektasis signigfikan: Peningkatan PaCO2
14. Pemeriksaan sinar X dada
Kenaikan diafragma pada bagian yang terkena
Pergeseran fraksa medistinus ke arah bagian yang terkenal bila terdapat daerah efelektasis yang muleuas
Penyempitan ruang iga
15. Potensial Komplikasi
Pneumonia
Pneumotoraks
16. Penatalaksanaan medis
Terapi oksigen bila diperlukan
Fisioterapi dada
IPPB/spirometer intensif
Volume tidal tinggi dan/PEEP bagi pasien dengan intubasi
Bronkoskopi
Dukungan nutrisi
Penatalaksanaan cairan
17. Obat-obatan
Anipiretik
Bronkodilator
Antibiotic
Diagnosa / intervensi / evaluasi keperawatan
1. Kurang pengetahua mengenai proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan kesehatan.
a. Kaji tingkat pengertian mengenai proses penyakit
b. Instruksikan pasien dalam teknik batuk dan napas dalam, ajarkan pasien untuk menekan dada ketika batuk.
c. Instruksikan pasien untuk menggunakan spirometer insentif dan beberapa sering untuk dipakai bila akan dilanjutkan di rumah
d. Jelaskan pentingnya untuk tidak merokok
e. Jelaskan pentingnya untuk melakukan latihan sesuai toleransi; pentingnya untuk menghindari keletihan dan merencanakan waktu istirahat
f. Diskusikan obat-obatan: nama, dosis, waktu pemberian, tujuan, dan efek samping.
g. Jelaskan pentingnya untuk menghindari obat-obatan yang dijual bebas sebelum membicaraknnya dengan dokter.
Hasil yang diharapkan/evaluasi
Pasien mendemonstrasikan pengertian tentang penatalaksanaan perawat kesehatan tentang proses penyakit seperti yang dibuktikan oleh :
a. Menggunakan sirometer insentif sesuai pesanan
b. Melakukan ambulasi seperti yang diarahkan oleh tim perawatan.
c. Menggunakan prinsip penatalaksanaan perawatan kesehatan
2. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan kompresi pada jaringan paru.
a. Kaji terhadap tanda hipoksimia: Sulit dalam pemapasan, takipnea, gelisah, pucat.
b. Kaji tingkat kesadaran
c. Asukultasi bunyi napas setiap 2 jam – 4 jam
d. Periksa kualitas dan frekuensi pernapasan
e. Perhatikan kualitas dan frekuensi pernapasan
f. Bantu dan unstruksikan pasien untuk berbalik, batuk, dan napas dalam 1-2 jam.
g. Bantu dan ajarkan pasien untuk melakukan drainase postural setiap 45 menit dan peran mungkin dipesankan untuk melakukan penepukan (clapping)
h. Lakukan penghisapan nasotrakeal sesuai kebutuhan
i. Berikan nebulisasi sesuai pesanan
j. Berikan nebulisasi sesuai pesanan
k. Instruksikan dan berikan dorongan pasien untuk menggunakan spirometer insentif sesuai pesan
l. Berikan dorongan untuk melakukan ambulasi diri segera mungkin
m. Pantau TD, Suhu, dan nadi setiap 4 jam
n. Pantau gas-gas darah arteri sesuai pesanan
o. Antipiretik
Hasil yang diharapkan/evaluasi
a. Pertukaran gas pasien meningkat
b. Hasil analisis gas darah dalam batas yang dapat diterima
c. Bunyi paru jelas selama auskultasi
d. Irama dan frekuensi pernapasan normal
ARDS
1) Pengkajian
Pengkajian keperawatan dari klien denan ARDS harus dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memaksimalkan informasi yang dikumpulkan tanpa meningkatkan distress pernapasan klien.
Data subjektif
Informasi tentang latar belakang dan riwayat penyakit saat ini dapat dikumpulkan dari sumber anggota keluarga klien biasanya terlalu lemah untuk dapat memberikan informasi secara rinci.
Data objektif
Data objektif yang dikumpulkan termasuk:
a. Mengkaji penampilan umum.
b. Mengkaji status mental: dapat beragam dari agitasi sampai somnolens.
c. Mengkaji tanda-tanda vital: takikardia, takipnea, bradipnea, anea, dan hipotensi.
d. Lakukan pemeriksaan paru: Pilih komponen dari pemeriksaan paru yang dapat ditoleransi oleh klien. Temuan dari pemeriksaan akan bergantung pada penyebab gagal napas yang mendasari. Kaji temuan pemeriksaan laboratorium seperti hasil AGD dan spirometri.
2) Diagnosa keperawatan
a) Gangguan pertukaran gas b/d ARDS
b) Penurunan curah jantung b/d arusbalik vena menurun
c) Pada pernapasan tidak efektif b/d perubahan tekanan paru
d) Ansietas b/d ARDS
e) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d inkubasi
3) Intervensi
a) Diagnosa keperawatan
Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan ARDS
Hasil yang Diharapkan Intervensi Keperawatan Rasional
Tetap reroksigenasi dengan adekuat yang ditunjukkan oleh :
1. PaO2 pada hasil AGD lebih dari 75 mm Hg
2. Warna kulit tidak pucat
3. Sirkulasi pirifer adekuat. Pantau AGD untuk menentukan PaO2.
Lakukan penghisapan hanya ketika diperlukan untuk mencegah kehilangan PEEP sekunder akibat terputusnya hubungan dari ventilator ARDS cedera paru akut yang mengakibatkan peningkatan permeabilitas kapiler, yang memungkinkan protein dan cairan mengalir keluar dan masuk kedalam ruang alveoli dan intersti
Sium, sehingga menghambat terjadinya pertukaran gas yang normal
Pantau tingkat PEEP dan fiO2 yang diperlukan. Kaji sirkulasi pertifer terhadap nadi, warna ekstremitas dan suhu. Pantau kadar oksigen darah vena campuran
b) Diagnosa Keperawatan
Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan arus balik vena menurun
Hasil yang Diharapkan Intervensi Keperawatan Rasional
Tidak mengalami gangguan homodinamik yang berkaitan dengan PEEP Pantau tanda-tanda vital setiap jam dan sesuai kebutuhan
Pantau parameter homodinamik terhadap tanda penurunan curah jantung, hipotensi kenaikan CVP, dan oliguria.
Pantau masukan dan keluaran
Periksa sirkulasi perifersetiap 2 sampai 4 jam dan sesuai kebutuhan.
Tinggalkan bagian kaki tempat tidur 10 sampai 20 derajat untuk meningkatkan arus balik vena
Lakukan latihan rentang gerak pasif (ROM) setiap 4 sampai 6 jam untuk meningkatkan arus balik vena
Berikan obat-obat adrenegik sesuai yang dipesankan untuk meningkatkan curah jantung
Beritahukan dokter jika terjadi komplikasi hemodinamik PEEP dapat meyebabkan menurunnya curah jantung dengan meningkatkan tekanan intraalveolar, dengan demikian menurunkan arus balik vena ke jantung.
c) Diagnosa Keperawatan
Hasil yang Diharapkan Intervensi Keperawatan Rasional
Tidak mengalami komplikasi akibat PEEP
1. Atelektasis
2. Prieumotoraks
3. Peumomediastium
4. emfisema subkutan Pantau pernapasan setiap jam dan sesuai yang dibutuhkan.
Kaji bunyi napas terhadap adanya bunyi napas tambahan (lihat Bab 2).
Lakukan tindakan pulmoneri setiap 2 jam dan sesuai yang diperlukan:
1. Sering mengubah posisi klien.
2. Fisioterapi dada
Patau terhadap tanda-tanda komplikasi pulmonary dan distress pemapasan:
1. Ekskursi dada asimetris
2. Nyeri tajam mendadak
3. Sianosis
4. Ansietas
Kaji terhadap emfisema subkutan
Simpan set selang data dekat ditempat tidur klien
Pantau AGD sesuai yang diperlukan
Beritahukan dokter tentang komplikasi pernapasan. Jika dinding alveoli tidak dapat menahan tekanan positif dari PEEP, maka dapat terjadi perforasi. Sebagai akibat, udara menglir ke dalam ruang pleural, mediastium, dan /ruang subkutan. Akibatnya adalah pneumotoraks, pneumomediastinum atau emfisema subkutan yang terjadi secara berurutan.
d) Diagnosa Keperawatan
Ansietas yang berhubungan dengan ARDS, intubasi, dan ketidak nyamanan akibat PEEP.
Hasil yang Diharapkan Intervensi Keperawatan Rasional
Tn. Dan Ny, X menunjukkan tanda-tanda perilaku menurunnya stress dan ansietas. Kaji terhadap tanda-tanda ansietas.
Jelaskan tentang ARDS kepada keluarga klien, termasuk rasional dari ventilasi mekanik dan PEEP
Beri klien dan keluarganya kesempatan untuk mengekpresikan kekhawatian dan ketakutannya.
Jelaskan tentang prosedur sebelum dilakukan.
Berikan alternatif komunikasi untuk Tn. Dan Ny.X
Antisipasi kebutuhan klien dan keluarganya Unit perawatan intensif, ventilasi mekanik, ketidak mampuan untuk berkomunikasi, dan ketakutan akan hal-hal yang tidak diketahui semuanya mengakibatkan perasaan-perasaan stress dan ansistas bagi klien di IVU sebagaimana juga orang terdekat klien
Berikan medikasi sedasi ringan /atiansietas jika diperlukan, sesuai pesanan.
Upayakan selalu tenang dan menyebarkan Tn.X jika ia mulai "melawan' atau menahan ventilator Ekshalasi tekanan positif sering tidak nyaman bagi klien, yang sering memberi rspons dengan melawan vertilator
e) Diagnosa Keperawatan
Perubahan nutrisi kuang dari kebutuhan yang berhubungan dengan intubasi
Hasil yang Diharapkan Intervensi Keperawatan Rasional
Menerima masukan nutrisi yang adekuat selama diintubasi Berikan hiperalimentasi atau makanan melalui selang arterl sesuai yang ditetepkan Status nutrisi dipertahankan untuk membantu dalam proses penyapihan dari ventilator, protein dan volume ekspander akan meningkatkan tekanan osmotic koloid serum sehingga mempertahankan cairan dalam komperteman intravascular
Pantau masukan dan haluaran.
Timbang berat badan setiap hari,
Berikan albumin atau volume ekspander sesuai yang ditetapkan.
Pantau kader albumin serum.
4) Implementasi
1. Mempertahankan pertukaran gas yang adekuat melalui oksigenasi (pertahankan terapi oksigen sesuai pesanan dan pantau tanda-tanda hipoksemia). Dengan dukungan ventilator, pertahankan patensi jalan udara; jika terpasang jalan udara buatan (mis, pipa endotrakheal atau trakheosiomi). Amankan posisi pipa untuk menghindari pergerakan baik keluar atau ke dalam dari posisi pipa untuk menghindari pergerakan baik keluar ke dalam dari posisi yang sudah ditetapkan. Posisikan klien untuk mendapatkan oksigenasi yang optimal biasanya dengan bagian kepala tempat tidur dinaikan 45 sampai 90 derajat. Auskultasi paru-paru setiap jam untuk mengkaji letak endotrakheal. Lakukan pengisapan pipa endotrakheal sesuai yang diperlukan dan diperiksa setting ventilator secara teratur.
2. Mempertahankan perfusi jaringan. Pemeliharaan perfusi jaringan yang adekuat adalah tanggung jawab keperawatan.
a. Pantau tekanan pulmonary capillary wedge. Beritahukan dokter jika tekanan berada di atas atau di bawah rentang yang ditetapkan. Jika tekanan lebih rendah dari rentang yang ditetapkan, berikan plasma volume ekspender atau medical hipotensif sesuai pesanan. Jika tekanan tinggi, berikan diuretic atau vasodilator sesuai yang dipesankan.
b. Kaji haluan urine, tanda-tanda vital, dan ekstremitas setiap jam.
3. Menurunkan ansietas klien dan keluarganya.
a. Pastikan fungsi ventilator yang tepat untuk memberikan volume tidal dan konsentrasi oksigen yang adekuat. Jika klien tampak dalam distress pernapasan meski ventilator bergungsi dengan tepat, kaji kadar gas AGD.
b. Identifikasi cara-cara agar klien dapat mengomunikasikan kekhawatiran dan mengekspresikan perasaannya (jika tidak mampu untuk mengungkapkan secara verbal karena intubasi, coba cara alternatif komunikasi).
c. Berikan penjelasan yang singkat dan dengan sederhana mengenai prosedur; orientasikan klien terhadap lingkungan sekitar, dan ulang penjelasan secara teratur.
d. Berikan penjelasan tentang rutinitas perawatan dan lingkungan kepada keluarga klien. Dorong keluarga klien untuk mendekati, berbicara, dan menyentuh klien, jika mereka menghendaki.
4. Mempertahankan nutrisi yang adekuat
5) Evaluasi
Keberhasilan penatalaksanaan keperawaran klien dengan ARDS tercermin pada pencapaian hasil dan tujuan klien (lihat bagian Hasil Klien yang Diharapkan). Bandingkan perilaku klien (pencapaian ini) dengan hasil dan tujuan klien yang telah ditetapkan sebelumnya. Ketidak berhasilan dalam pencapaian mengindikasikan diperlukannya modifikasi endekatan dengan melakukan pengkajian kembali kondisi klien, merevisi diagnosa keperawatan, dan menyesuaikan tindakan keperawatan yang dipilih.
DAFTAR PUSTAKA
Asih, Niluh Gede Yasmin, 2003. Keperawatan Medikal Bedah. Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta: EGC
Kumar, Robbins, 1995. Buku ajar Patologi 2. Jakarta: EGC
Hinchliff, Sue, 1999. Kamus Keperawatan. Jakarta: Airlangga University Press.
www.google.com (penyakit paru restriktif)
Sweaningen, 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar